TOPNEWS1.ONLINE, SIDRAP – Desa Botto, Kecamatan Pitu Riase, terus dipacu menjadi salah satu sentra pertanian unggulan di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Hal itu ditegaskan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, saat menghadiri Panen Raya Musim Tanam (MT) II sekaligus persiapan olah lahan menuju program Intensifikasi Pertanaman (IP) 300, Jumat (7/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Syaharuddin mengungkapkan rasa syukur atas capaian Kabupaten Sidrap yang mendapat penghargaan dari pemerintah pusat sebagai daerah terbaik di Pulau Sulawesi.
Penghargaan tersebut disertai hadiah sebesar Rp3 miliar yang langsung dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur di wilayah Pallae dan Bola Bulu, Kecamatan Pitu Riase.
Menurutnya, pembangunan di Kecamatan Pitu Riase akan terus menjadi prioritas agar masyarakat semakin maju dan sejahtera.
Perbaikan infrastruktur jalan terus digenjot, termasuk di Bila Riase, Barukku, Lombo, Compong, Dengenge-Dengeng hingga Buntu Buangin.
“Ketika saya mulai menjabat, terdapat sekitar 955 kilometer jalan dalam kondisi rusak. Alhamdulillah, hingga saat ini sudah sekitar 372 kilometer berhasil diperbaiki. Jalan yang baik akan memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Selain infrastruktur, Pemkab Sidrap juga mendorong pengembangan desa tematik agar setiap desa memiliki potensi dan ciri khas yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di sektor pertanian, Desa Botto disebut menjadi salah satu penerima bantuan terbesar. Selama setahun terakhir, sebanyak 28 kelompok tani menerima berbagai bantuan, termasuk 14 kelompok yang mendapatkan program optimalisasi lahan (oplah) non rawa.
Untuk mengatasi persoalan kekurangan air, pemerintah akan menyalurkan bantuan sumur bor listrik kepada kelompok tani.
Setiap kelompok direncanakan memperoleh tiga unit bor listrik sehingga lahan pertanian tetap bisa berproduksi meski musim kemarau.
“Ke depan tidak ada lagi sawah yang kekurangan air. Pertanian kita akan semakin modern. Petani cukup mengoperasikan mesin menggunakan handphone dengan sistem voucher,” jelasnya.
Syaharuddin juga menjelaskan, program cetak sawah seluas 78 hektare yang dimulai pada 2025 belum dapat ditanami akibat keterbatasan air.
Karena itu, kawasan tersebut akan segera dilengkapi dengan sumur bor dan jaringan listrik sepanjang sekitar satu kilometer.
Sementara pada 2026, program cetak sawah kembali dilanjutkan seluas 79 hektare di wilayah Toddang Asa.
Tak hanya itu, pemerintah juga meluncurkan program rehabilitasi sawah. Para petani diminta melaporkan lahan yang selama ini tidak lagi difungsikan agar dapat direhabilitasi dan kembali produktif.
Menjelang panen, hasil ubinan di Desa Botto menunjukkan potensi produktivitas mencapai 9,5 ton gabah per hektare. Capaian ini menjadi modal penting dalam mendukung target peningkatan produksi pangan daerah.
Sebagai persiapan menuju IP300 atau tiga kali tanam dalam setahun, empat kelompok tani di Desa Botto juga menerima bantuan rotavator melalui program PM-AAS untuk mempercepat pengolahan lahan.
Di sisi kelembagaan, Syaharuddin mendorong pemekaran kelompok tani agar pelayanan semakin efektif. Dari 27 kelompok tani yang ada, sebanyak 12 kelompok dinilai memenuhi syarat untuk dimekarkan karena mengelola lahan lebih dari 25 hektare, bahkan ada yang mencapai 81 hektare.
Menurut Syaharuddin, seluruh program tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendongkrak pendapatan masyarakat Sidrap.
“Pertanian harus menjadi jalan utama meningkatkan kesejahteraan warga Sidrap. Dengan infrastruktur yang baik, air yang tersedia, alat pertanian modern, dan kelembagaan petani yang kuat, saya optimistis Pitu Riase akan semakin maju dan menjadi lumbung pangan yang lebih produktif,” pungkasnya. (Ibe)
















