Adapun kelompok sasaran itu, lanjut Andi Rita, Pertama yaitu remaja sebagai calon pengantin harus disiapkan sejak dini terkait gizi dan kesehatannya, kedua Ibu Hamil melalui pemeriksaan kesehatan secara teratur dan pemenuhan gizi selama masa kehamilan, ibu pasca persalinan dengan pemberian ASI Ekslusif kepada anak dan pengaturan kelahiran dengan alat kontrasepsi pasca persalinan, keempat Baduta (usia 0-23 bulan) dengan memberikan asupan gizi yang seimbang dan MPASI serta pola asuh yang baik.
Mengatasi Stunting harus dimulai dari dari hulu yaitu pada fase remaja, lanjut Andi Rita, “Saat ini BKKBN telah mengembangkan Aplikasi Elsimil atau Elektronik Siap Nikah dan Hamil, dimana Aplikasi ini dirancang khusus untuk menyasar calon pengantin, ibu hamil dan yang telah melahirkan, Aplikasi ini berfungsi sebagai alat pantau kesehatan dan edukasi seputar kesiapan nikah dan program hamil” Ungkap Andi Rita.
Selain itu semua calon pengantin, tiga bulan sebelum menikah harus melakukan pemeriksaan kesehatan dan akan dipantau melalui aplikasi Elsimil oleh Tim Pendamping Keluarga yang terdiri dari Bidan, Kader PKK dan kader KB selain pendampingan pranikah kerjasama dengan KUA.
“Calon pasangan yang akan menikah bisa melakukan pemeriksaan kesehatan, lingkar lengan atas, berat badan serta minum vitamin dan tambah darah untuk mencegah kelahiran bayi Stunting, ini akan dipantau melalui Aplikasi Elsimil agar siap nikah dan siap hamil” ungkap Andi Rita
Akhir sambutan Kepala BKKBN Sulsel, Andi Rita berharap seluruh peserta dapat mempraktekkan informasi tentang pencegahan stunting dalam keluarga masing-masing sekaligus menjadi perpanjangan tangan informasi kepada keluarga dan masyarakat sekitar.
Anggota Komisi IX DPR RI, Hasnah Syam menyebutkan BKKBN merupakan mitra kerja Komisi IX, dimana ruang lingkup tugasnya meliputi bidang Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Kependudukan dimana BKKBN salah satu mitra Komisi IX.
Hasnah Syam menyebutkan stunting menjadi ancaman serius pembangunan kualitas SDM bangsa dalam upaya mewujudkan generasi emas 2045
“Data SSGI tahun 2022 menunjukkan angka stunting di Indonesia sebesar 21,6 persen, artinya, 1 dari 4 anak di Indonesia mengalami Stunting, sedangkan WHO hanya memberikan toleransi tiap negara hanya sebesar 20 persen” ungkap Hasnah Syam.
Hasnah Syam yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Barru menyebutkan berbagai inovasi dilakukan Kabupaten Barru dalam menurunkan stunting diantaranya gerakan kampanye makan telur cegah Stunting “One Egg One Day”.
“Dengan Program Ayo Makan Telur, Kita menyalurkan bantuan telur kepada anak berisiko Stunting untuk dikonsumsi selama 6 bulan, selain itu Kita pastikan telur tersebut di konsumsi,” ujar Hasnah Syam.
















