TOPNEWS1.ONLINE, JENEPONTO — Suasana penuh rasa ingin tahu dan semangat belajar tampak menyelimuti siswa Kelas X SMKN 6 Jeneponto saat menelusuri Kompleks Makam Raja-raja Binamu di Kelurahan Bontoramba, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto.
Kegiatan bertajuk Lawatan Sejarah (Visitasi Study) ini menjadi pengalaman berharga bagi para siswa untuk mengenal langsung jejak peradaban masa lampau yang pernah berjaya di tanah Turatea.
Kompleks makam yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-14 itu menyimpan kurang lebih 1.000 makam para raja dan tokoh penting Kerajaan Binamu. Situs bersejarah tersebut menjadi saksi bisu perjalanan panjang budaya dan pemerintahan yang pernah berkembang di Jeneponto.
Kegiatan edukatif ini semakin menarik karena mengusung konsep pembelajaran luar kelas berbasis kolaborasi lintas disiplin ilmu. Para guru dari berbagai mata pelajaran turut terlibat aktif dalam mendampingi dan membimbing siswa selama proses observasi lapangan berlangsung.
Guru Sejarah, Dita Desiana, S.Pd., Gr., memberikan pemaparan mengenai asal-usul Kerajaan Binamu serta nilai sejarah yang terkandung di dalam situs tersebut.
Sementara Guru Bahasa Indonesia, H. Fahri AB., S.Pd., bersama Guru Bahasa Inggris, Murdin, S.Pd., M.Pd., membimbing siswa dalam mengembangkan kemampuan literasi dan komunikasi melalui deskripsi situs sejarah yang mereka amati secara langsung.
Di sisi lain, Guru Pendidikan Jasmani, Muhammad Saipul, S.Pd., Gr., turut memastikan kondisi kesehatan dan kebugaran siswa tetap terjaga selama kegiatan penelusuran berlangsung.
Antusiasme siswa terlihat saat mereka mengamati bentuk nisan kuno, artefak budaya, hingga mendengarkan kisah-kisah sejarah yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi mereka, kegiatan ini bukan hanya sekadar kunjungan wisata edukasi, tetapi juga menjadi sarana mengenal identitas daerah dan menghargai peninggalan leluhur.
“Belajar tidak hanya dilakukan di ruang kelas. Dengan merasakan langsung kekayaan budaya yang ada di depan mata, siswa diharapkan dapat lebih menghargai akar sejarah mereka,” ujar Fahri.
Salah satu siswa mengaku sangat terkesan bisa melihat langsung peninggalan sejarah yang selama ini hanya dipelajari melalui buku pelajaran. Menurutnya, pengalaman tersebut membuat pembelajaran sejarah terasa lebih hidup dan bermakna.
Melalui kegiatan ini, SMKN 6 Jeneponto berharap dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap warisan budaya lokal di kalangan generasi muda.
Lawatan sejarah tersebut juga menjadi langkah nyata sekolah dalam membentuk siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran budaya dan kepedulian terhadap pelestarian sejarah daerah. (*)
Penulis: Imran Satria, S.Tr.Pt
Alumni SMKN 6 Jeneponto








