Staf Ahli Bidang Pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan, dr. Andi Mappatoba, M.B.A, DTAS hadir membuka Rakerda ini menyatakan dukungan penuh dalam upaya percepatan penurunan Stunting di Sulawesi Selatan.
Senada dengan Prof. Rizal, Ia menegaskan menurunkan angka stunting dilakukan melalui konvergensi kegiatan lintas sektor melalui kerja gotong royong.
“Dalam kerangka pendekatan Rencana Aksi agar mampu menajamkan seluruh kegiatan percepatan penurunan stunting yang dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan pemerintah desa dengan menggunakan tiga pendekatan yaitu pendekatan intervensi gizi, pendekatan multisektor dan multipihak, serta pendekatan berbasis keluarga risiko Stunting,” ujar Mappatoba.
Selain itu, perlu penguatan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di seluruh tingkatan wilayah agar proses koordinasi lebih efektif melalui Pendampingan terpadu, koordinasi provinsi, satgas, dan lainnya.
“Pengembangan manajemen satu data menjadi landasan kita dalam melihat perkembangan pelaksanaan Program Percepatan Penurunan Stunting serta menjadi rujukan dalam perencanaan dan penganggaran kegiatan,” tutupnya.
Dalam kegiatan ini dilakukan penandatangan perjanjian kerjasama antara BKKBN Sulsel dan Perguruan Tinggi Mega Rezky dan Universitas Patompo Makassar terkait Kolaborasi dalam Percepatan Penurunan Stunting, Pameran Menu Dashat dan Produk Kelompok UPPKA.
Rakerda ini menghadirkan peserta Wakil Bupati/Walikota selaku Ketua TPPS Kabupaten/Kota, Kepala Dinas PMD, Kepala Bappelitbangda, Kepala OPD-KB Kabupaten/Kota dan mitra kerja tingkat provinsi serta instansi vertikal lainnya.
Sekadar diketahui, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar. (dso/Ibe)
















