Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
NewsNasional

Dinamika Hubungan Barat dengan Dunia Islam Dalam Dua Dekade Terakhir

×

Dinamika Hubungan Barat dengan Dunia Islam Dalam Dua Dekade Terakhir

Sebarkan artikel ini

Beragam Penyelasan dan Motif Invasi Iraq

Pada 25 Oktober 2015, CNN mempublikasikan wawancara Fareed Zakaria dengan Tony Blair yang mengungkapkan penyesalan dan permohonan maafnya atas invasi AS bersama sekutunya di Iraq, dengan menyatakan: “saya menyampaikan permohonan maaf atas fakta bahwa kami telah menerima laporan intelegen yang salah atas tuduhan bahwa Iraq telah menggunakan senjata kimia secara ekstensif untuk menyerang penduduknya sendiri dan menyerang pihak lain. Dugaan kami itu ternyata tidak benar. Saya juga mohon maaf atas berbagai kesalahan dalam perencanaan, dan terutama atas kesalahan perkiraan kami atas apa yang akan terjadi setelah menjatuhkan rezim Saddam Hussein.”

Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

Penyesalan dan permohonan maaf serupa juga telah diungkapkan oleh Presiden Barack Obama lewat wawancaranya dengan Fox News, 10 April 2016. Ia menyatakan bahwa: “AS amat menyesal dan sebagai Presiden, inilah kesalahan terbesar (worse mistake) yang telah saya lakukan dalam masa pemerintahan saya, menyerang Libya dan menggulingkan Presiden Muammar Khadafi tanpa perencanaan yang tepat pasca penyerangan itu. Akibatnya Libya benar-benar kheos dan secara berlanjut masuk ke dalam ancaman kekerasan para ekstrimis.”

Pengakuan lain yang juga telah menyentakkan kesadaran masyarakat internasional yakni ketika Donald Trump pada pidato kampanyenya di Florida, 11 Agustus 2016, menyampaikan bahwa Obama dan Hillary, keduanya adalah pendidri Islamic State of Iraq and Syria atau ISIS (The Guardian, 11/8/2016). Ini dilakukan untuk memecah belah dan mengadu domba dunia Islam.

Iraq yang berpenduduk 33 juta (2016), namun menghasilkan 5,3 juta barel minyak setiap hari (2017) dan diperkirakan produksinya akan meningkat ke 8 juta barel sehari pada 2027 (Reuter, 10/8/2021). Namun kekayaan alam itu terlihat tidak memberi manfaat optimal bagi warganya. Sebelum invasi AS dan sekutunya ke Iraq, produksi minyaknya yang melimpah itu diatur sendiri oleh negaranya dengan tidak memperbolehkan ada kerjasama dengan perusahaan minyak AS dan Barat. Barulah setelah invasi, Presiden Bush menekan pemerintah Iraq untuk menyetujui pemberlakuan undang-undang yang memperbolehkan perusahaan minyak asing beroperasi di Iraq (CNN, 15/04/2013).

Dalam ulasan CNN itu, terlihat motif perang di Iraq, sesungguhnya, adalah untuk menguasai minyaknya.

Jika Iraq akan menghasilkan 8 juta barel minyak sehari dalam waktu dekat, bandingkan dengan keadaan Indonesia yang penduduknya berjumlah sekitar 272 juta jiwa, hanya menghasilkan sekitar 420 ribu barel per hari (Jakarta Globe, 11/12/2020).

Demikianlah beberapa realitas dinamika hubungan Barat dengan dunia Islam dalam dua decade terakhir. (*)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel diatas?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by ExactMetrics