Saat bertemu pemilik mobil yakni YD, harga mobil disepakati yakni Rp 95 juta. Irfan menyaksikan surat-surat mobil berupa STNK dan BPKB secara langsung. Usai harga disepakati, Irfan menanyakan kepada YD tentang proses pembayaran yang akan ditransfer.
“Saya tanyakan kepada YD, uangnya ditransfer ke rekening siapa,” ujarnya.
Pasang Iklan Anda DisiniPasang Iklan Anda Disini
YD saat itu meminta agar dia transfer uang sesuai harga yang disepakati ke rekening atas nama Andi Nasir. YD juga saat itu mengaku jika Andi Nasir adalah iparnya.
“Jadi saya hubungi Ibu saya yang bernama Hj Cita di Teppo Pinrang untuk melakukan transfer uang ke rekening Andi Nasir sesuai petunjuk YD,” ungkapnya.
Akhirnya, uang senilai Rp 95 juta berhasil di transfer ke rekening BRI atas nama Muhammad Rasyid Habib. Sebelum uang di transfer, Irfan sempat memperlihatkan nomor rekening tersebut kepada YD. YD saat itu mengiyakan dan membenarkan rekening tersebut, sehingga uang itu kami transfer tanpa rasa curiga. Kami tak curiga lantaran YD mengaku jika Andi Nasir adalah iparnya.
“Setelah uang ditransfer ke rekening sesuai permintaan YD, dan saya menghubungi Andi Nasir melalui telepon, tapi panggilan saya terblokir. Saat itu tiba-tiba YD berteriak mengatakan kita ditipu, ” cerita Irfan.
Irfan didampingi Arifuddin Pais kepada wartawan mengatakan, awalnya saat membuka pembicaraan terkait harga mobil, sempat ditanyakan kepada YD apa pekerjaannya, begitupun ditanyakan juga apa pekerjaan Andi Nasir.
“YD saat itu mengaku jika dirinya bekerja di Pelabuhan Parepare sebagai penjual tiket, sementara Andi Nasir yang diakui YD sebagai Iparnya merupakan pebisnis,” imbuh Irfan diamini Arifuddin Pais.
Irfan akui tidak pernah tahu jika YD adalah Polisi karena mengaku nya sebagai penjual tiket di pelabuhan. Nanti diketahui jika YD adalah polisi saat saksi Arifuddin Pais mencoba mengambil BPKB mobil ketika YD berteriak kita ditipu.
Merasa ditipu dan uangnya digelapkan, Irfan melaporkan kejadian yang dialaminya di Polres Pinrang untuk ditindak lanjuti.
Sementara itu aktivis H. Aris Asnawi berharap agar pihak kepolisian mengungkap tuntas kasus ini.
“Bisa jadi ini kerja komplotan mafia atau sindikat kejahatan. Jadi kasus ini merupakan petunjuk awal bagi pihak kepolisian untuk membongkar komplotan ini,” ujar Aris seperti dikutip dari lenteramerahnews.co.id. (MDS/ibe)

















