Namun dia minta memperbaiki sambil jalan aktivitas penambangan dengan memasang bronjong atau batu gajah dengan cara bertahap.
Rahma penambang lain keberatan soal isu penutupan tambang dia kelolah bersama tambang milik Rustam. Karena, kata dia aktivitas mereka tidak bermasalah.
“Terkait adanya kerusakan lingkungan. Para pekerjaan kami saat ini sedang memperbaiki akses jalur air di sungai tersebut yang dianggap rusak,” ujarnya.
Sementara penambang lain, Andi Besse dari CV Buana menyampaikan pendapat bahwa dirinya juga memiliki tambang yang bisa ditinjau kapan saja dan siap diberikan saran dan masukan terkait aktivitasnya.
Ilham selaku pengurus BPD desa Nepo menyampaikan, bahwa dirinya angkat bicara sebagai perwakilan masyarakat meminta para penambang memenuhi tanggung jawabnya dalam hal kerusakan lingkungan.
“Harapan kami agar para penambang bisa memenuhi keinginan masyarakat yang ada dilokasi penambangan,” ujarnya.
Dia mengklaim, bahwa ada beberapa kesalahan penambang yakni tidak dilakukan penyiraman yang rutin, dan kerusakan yang di timbulkan lokasi tambang milik ibu Rahma perlu di perhatikan.
“Harusnya para penambang selalu bershabat dengan masyarakat khususnya yang di lalui kendaraan muatan,” Kata M.Toha salah seorang warga.
Darman warga lain bertanya, sebenarnya penambangan ini kalau tidak ada dampak kenapa tidak di lanjut, dan terus bagaimana jika tambang sudah selesai.
“Harapan kami kepada pemerintah agar turun meninjau lokasi penambang yang masih nekat melakukan aktivitas,” tandasnya. (Suwardi)
















