TOPNEWS1.ONLINE, SIDRAP — Inovasi unik datang dari para peternak itik di Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap hama, kini justru disulap menjadi pakan bernilai ekonomi tinggi yang mampu mendongkrak produksi telur hingga 80 persen.

Di wilayah sekitar Danau Sidenreng, ikan sapu-sapu kini tak lagi dipandang sebelah mata. Para nelayan justru mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil tangkapan ikan tersebut yang kemudian dimanfaatkan oleh peternak itik sebagai pakan alternatif.
Salah satu pelaku usaha, Senibar, mengaku telah lima bulan terakhir menggunakan ikan sapu-sapu sebagai pakan utama ternaknya. Hasilnya pun terbilang signifikan.
“Alhamdulillah produksi telur sekitar 80 persen, atau 120 butir setiap hari dari 150 ekor itik,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Proses pengolahannya cukup sederhana. Untuk kebutuhan harian, ikan sapu-sapu mentah digiling bersama eceng gondok menggunakan mesin. Sementara untuk stok jangka panjang, ikan dimasak terlebih dahulu sebelum digiling, lalu dicampur dengan dedak dan jagung.
Pakan tersebut diberikan tiga kali sehari dan terbukti mampu meningkatkan produktivitas ternak sekaligus menekan biaya pakan.
Tak hanya satu-dua peternak, metode ini kini telah diterapkan secara luas di Desa Mojong dengan total populasi mencapai sekitar 10 ribu ekor itik. Desa ini bahkan mulai dilirik sebagai percontohan pengembangan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, turut memberikan perhatian serius terhadap potensi ini. Ia mendorong peningkatan populasi itik hingga 100 ribu ekor dengan sistem peternakan mandiri berbasis kandang modern.
“Ibu-ibu di Desa Mojong rata-rata beternak itik untuk tambahan ekonomi keluarga. Ini potensi besar yang harus terus dikembangkan,” ungkapnya.
Saat ini, dari total 10 ribu ekor itik, produksi telur mencapai sekitar 6.500 butir per hari dengan harga Rp1.500 per butir. Artinya, perputaran ekonomi harian bisa menyentuh Rp9,7 juta, atau sekitar Rp292 juta per bulan dan mencapai Rp3,5 miliar dalam setahun.
Inovasi ini tak hanya menjadi solusi pakan murah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru sekaligus mengubah hama menjadi sumber berkah bagi masyarakat Sidrap. (Ibe)

















