Keadaan tersebut di atas sangat kontras dengan bersihnya parit-parit dan selokan di kota Bangkok misalnya, begitu juga toilet di sejumlah rest area antarkota di Amerika dan Tiongkok. Serasa kita tidak berurusan dengan najis, tetapi betul-betul melepas lelah yang menyenangkan, sesuai dengan namanya rest room dan rest area. Hal itu karena mereka mengamalkan nilai kebersihan yang Islami walaupun bukan Muslim.
Pengalaman lain, ketika mnyertai tim lintas agama berkunjung ke beberapa negara Eropah sepuluh tahun yang lalu, naik bus dari Belanda sampai Vatikan, melewati Belgia, Swiss, Perancis dan Italia. Sopir bus bernama Mooritz itu sangat disiplin menjaga kebersihan bus nya. Dia mohon agar kami tidak makan bekal dalam mobil. Namun dasar orang kita suka melanggar, ada saja yang makan bekal berlindung, di balik jok mobil dan membiarkan sampahnya di lantai bus. Astaghfirullah al-Azhim.
Selanjutnya, kita semua sudah paham bahwa Ramadhan telah melatih kedermawanan kita semua via zakat fitrah dan zakat mal. Sejumlah ahli kesehatan menyimpulkan bahwa semakin rajin orang bersedekah, semakin baik silaturahim, maka semakin tinggi kualitas kesehatannya. Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang terbiasa bersedekah, akan memiliki tekanan darah lebih sehat, dan tidak akan mudah stres dan berpeluang dianugerahi usia panjang ketimbang orang-orang yang kikir dan pelit sama sekali.
Sebaliknya, penemuan terbaru dari Universitas Teknologi Queensland, dan hasil studi yang dirilis Jurnal Kesehatan Umum Amerika sepuluh tahun yang lalu (2013), bahwa perilaku pelit itu dapat meningkatkan stres. Penemuan secara ilmiah itu, adalah bukti kebenaran hadits Rasulullah SAW, riwayat Bukhari, yang menganjurkan pentingnya silaturahim dan indahnya berbagi dengan sesama manusia.
Perilaku yang sangat tidak sejalan dengan Ramadhan ialah sebagian masyarakat cenderung menjadi pemarah, bukannya peramah. Berseliweran humpatan, fitnah, hujatan, dan segala jenis ujaran kebencian di medsos. Padahal Ramadhan telah mendidik kita semua untuk berperilaku santun penuh persahabatan.
Sebagian kita gagal memahami hadits Nabi: al-shaumu junnah, puasa adalah pelindung dari sifat keburukan. Ramadhan sesungguhnya merupakan madrasah untuk persahabatan dan kedamaian, termasuk terhadap umat-umat agama lain. “Damai itu Indah”. Berdamai dengan Allah melalui dzikr, berdamai dengan manusia melalui akhlaq karimah.
Sejarah mencatat bahwa agama Islam masuk dan berkembang di Indonesia bukan disertai kekerasan apalagi perang. Penganjur Islam yang datang, menghargai umat Hindu dan Budha dan tetap menghargai Candi Borobudur, Prambanan dan sejumlah Candi-candi lain di Jawa dan Sumatera.
Juga umat Islam tidak memutus rasa persaudaraan ukhuwah terhadap mereka yang masuk Katolik dan Kristen ketika Portugis dan Belanda sampai ke Nusantara. Maka terwujudlah masyarakat Nusantara yang beragam suku dan agamanya dalam kedamaian, Gema ripah loh Jinawi, Toto Tentrem Karto Raharjo.
Semua itu harus kita tetap tegakkan dengan menghindari hujatan, hinaan dan pengkafiran terhadap kelompok lan.
Dan termasuk menghindari pengrusakan budaya lokal yang masih menjadi tradisi iman bagi suku-suku tertentu. Semoga kita semua berhasil mereformasi mental menjadi lebih muttaqin. Menjadi Muslim disertai kehidupan yang Islami. Amin YRA. Wallauhu A’lam bil-showabi. (*)

















