Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
NasionalNews

Reformasi Mental Pasca Ramadhan

×

Reformasi Mental Pasca Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Oleh Prof.Dr. Hamka Haq, MA (Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia)

JAKARTA — Ramdhan telah berlalu, bulan di mana mental manusia diasah untuk lebih peka terhadap soal-soal kemanusiaan. Mari kita berpikir sejenak, apa dampak Ramadhan bagi kita umat Islam dalam perbaikan moral dan mental kita, yang dalam bahasa religinya disebut Muttaqin. Persoalannya ialah apa manfaat dari amaliyah Ramadhan pada kehidupan sehari-hari kita selanjutnya?

Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

Puasa telah melatih kita untuk berperilaku jujur. Tidak ada orang berpuasa dengan sengaja mengelabui orang-orang sekitarnya, sebab puasa disaksikan sendiri oleh Allah SWT. Jadi dampak puasa ialah kejujuran. Begitu pentingnya kejujuran pada kebenaran, maka salah satu sifat khas Rassulullah ialah al-shiddiq, yakni jujur dan teguh pada kebenaran. Pemimpin yang jujur akan melayani rakyat dengan nyaman, tanpa korupsi; rakyat yang jujur akan pasti taat pada aturan dan tidak saling merampas hak-hak sesamanya; para tokoh elit yang jujur tidak akan menghasut rakyat; para sumber berita dan netizen di medsos tidak akan mudah mengumbar berita bohong dan fitnah yang meresahkan masyarakat.

Pokoknya, kejujuran adalah sumber kemaslahatan, sumber keamanan yang melindungi masyarakat, sehingga masyarakat merasa nyaman dan aman dalam hidupnya.

Jadi kemakmuran itu, kunci utamanya ialah kejujuran. Pengalaman masyarakat di negara-negara maju membuktikan hal itu. Peneliti sosial ekonomi menyebut negara Denmark dan New Zealand sebagai contoh, penduduknya memperoleh pendapatan tertinggi, dan merupakan negara yang paling makmur di dunia. Mereka mencapai kemakmuran bukan karena semua warganya berpendidikan tinggi, melainkan karena percaya bahwa kejujuran adalah faktor utama mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran itu. Orang Denmark, Finlandia dan New Zealand, sangat yakin bahwa kejujuran adalah awal dari semua kenyamanan dan keamanan dalam hidup, dan bukannya kepintaran.

Dalam suatu kesempatan menyertai peserta Nisham Forum, Seminar Internasional tentang Kong Hu Chu dan agama-agama Dunia di Tiongkok, bersama Presiden ke-5 RI, salah seorang teman kehilangan bagasi, namun akhirnya bagasi ditemukan kembali dengan utuh, bahkan langsung dijumpai di hotel tempat kami menginap. Seperti pula pengalaman teman lain ketika berkunjung ke Jepang, Korea, Australia dan Saudi Arabiah. Barang-barang yang sempat hilang di air port, atau di Mall, asal dilapor ke petugas security, pada umumnya dapat ditemukan kembali. Sampai ada ungkapan, barang yang hilang di negeri tersebut dapat ditemukan; sebaliknya di Indonesia, barang-barang yang nyata-nyata ada dapat hilang melayang, padahal kita di sini hampir 90% menganut Islam.

Untuk itu kita perlu mengevaluasi sejauh mana nilai keislaman kita dalam kehidupan sehari-hari, khususnya nilai kejujuran dari ibadah puasa kita. Alangkah bahagianya jika kita dapat menerapkan kejujuran itu dalam kehidupan sehari-hari kita, dengan prinsip jujur itu indah, dan diridhoi Allah SWT.

Selain kejujuran, Ramadhan juga memberi pendidikan kedisiplinan, tak ada yang berani melanggar aturan puasa. Namun, bangsa kita pun belum menjadikan kedisiplinan sebagai budaya sehari-hari. Di lapisan atas, pejabat-pejabat melanggar sumpah jabatan, melakukan korupsi di tengah kehidupan rakyat yang susah. Masyarakat lapisan bawah pun masih banyak berperilaku tak disiplin; banyak kecelakaan terjadi akibat ketidak-disipilinan berlalu lintas, pencurian aliran listrik mengakibatkaan kebakaran, berjualan di trortoar mengganggu pengguna jalan, unjuk rasa yang tidak disiplin merusak fasilitas umum.

Sedikit ilustrasi, dalam suatu kunjungan kerja DPR RI ke Amerika, penulis terkagum-kagum menyaksikan Penasehat Khusus Menlu Amerika Serikat, Judith E. Heumann, beliau sangat patuh pada aturan yang dibuat bawahannya sendiri. Bayangkan, pada sesi foto bersama, dia harus minta izin dahulu pada staf security. Dia tidak serta merta sok kuasa untuk langsung berpoto tanpa izin dari stafnya itu. Prinsipnya, semua harus berlaku sesuai aturan, karena mereka adalah sama di depan hukum dan aturan. Bandingkan dengan perilaku sebagian petinggi kita di Indonesia yang masihn sering tidak peduli pada aturan, dengan katanya membuat kebijakan walaupun nyata-nyata kebijakannya bertentangan dengan hukum dan aturan.
Sisi lain dari kedisiplinan ini ialah menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan di jalan ataupun di kali tanpa memikir akibatnya, menunjukkan rendahnya perilaku disiplin. Tengoklah selokan-selokan dan sungai-sungai dalam kota, penuh sampah yang menyengat hidung. Tidak hanya di Indonesia, kebiasaan buruk itu juga ditemukan di sejumlah negara Islam. Padahal para ulama mengajarkan hukum Islam, memulai dari Bab Thaharah, yaitu bab tentang kebersihan. Kualitas keislaman kita masih formalitas, memahami kebersaihan sebatas wudhu dan mandi sebelum sholat. Belum membumi dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel diatas?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by ExactMetrics