TOPNEWS1.ONLINE.BONE — Muh Adiyatma Mahasiswa KKNT 116 Fakultas ilmu sosial dan politik Unhas Lakukan upaya pencegahan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah terus menjadi perhatian berbagai pihak. Melalui penguatan nilai-nilai budaya Bugis-Makassar, semangat Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge dinilai mampu menjadi fondasi penting dalam membangun karakter peserta didik yang berakhlak, saling menghargai, dan peduli terhadap sesama.
Kegiatan edukasi berjudul “Stop Bullying: Membangun Karakter dengan Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge” dilaksanakan di SD Inpres 10/70, Jumat 24 juli 2026 Desa Arallae kecamatan Kahu Kabupaten Bone.
Sebagai bentuk kampanye sosial untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap bahaya perundungan, baik secara verbal, fisik, maupun melalui media sosial.
Muh Adiyatma menjelaskan bahwa nilai Sipakatau mengajarkan manusia untuk saling memanusiakan tanpa membedakan latar belakang, kemampuan, maupun kondisi sosial seseorang. Dengan menanamkan sikap tersebut, siswa diharapkan mampu menghormati hak dan perasaan teman-temannya sehingga perilaku mengejek, mengucilkan, atau merendahkan orang lain dapat dicegah sejak dini.
Selain itu, nilai Sipakalebbi menekankan pentingnya saling menghargai dan memuliakan sesama. Dalam kegiatan ini, siswa diajak untuk membangun kebiasaan positif seperti berbicara dengan sopan, memberikan dukungan kepada teman, serta mengapresiasi perbedaan sebagai kekuatan bersama. Menurut para pendidik, budaya saling menghormati akan menciptakan hubungan sosial yang harmonis dan mengurangi potensi terjadinya konflik maupun perundungan.
Sementara itu, Sipakainge dimaknai sebagai sikap saling mengingatkan dalam kebaikan. Melalui diskusi interaktif dan simulasi kasus bullying, siswa diajak untuk berani menegur teman yang melakukan tindakan perundungan serta melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau pihak yang berwenang. Sikap peduli dan berani bertindak dianggap penting agar korban tidak merasa sendirian dan pelaku dapat dibimbing menuju perilaku yang lebih baik.
Kegiatan edukasi ini juga diisi dengan penyampaian materi mengenai dampak bullying terhadap kesehatan mental, prestasi belajar, dan perkembangan kepercayaan diri anak. Para siswa terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab dan berbagi pengalaman mengenai pentingnya menciptakan pergaulan yang sehat dan suportif di lingkungan sekolah.
Pendekatan berbasis kearifan lokal lebih mudah diterima oleh siswa karena dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur, seperti saling menghormati, menjaga martabat sesama, dan memperkuat rasa kebersamaan, memiliki relevansi yang kuat dalam menghadapi kasus perundungan (bullying). Penerapan nilai-nilai tersebut di lingkungan sekolah dapat membantu membangun hubungan yang lebih harmonis antar siswa, menumbuhkan empati, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan mendukung di tengah tantangan perundungan yang semakin kompleks pada era pendidikan modern.
Melalui program “Stop Bullying: Membangun Karakter dengan Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge”, diharapkan tumbuh generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, kepedulian, serta kemampuan menjaga hubungan sosial yang sehat. Penanaman nilai saling memanusiakan, saling menghargai, dan saling mengingatkan menjadi langkah nyata dalam mewujudkan sekolah yang ramah anak, bebas dari perundungan, dan berkarakter kuat sesuai dengan kearifan lokal Sulawesi Selatan.(Nn).
















