TOPNEWS1.ONLINE, MAKASSAR — Desa Timpuseng, Kabupaten Maros, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 77 UIN Alauddin Makassar (UINAM) menggelar Seminar Program Kerja di Desa Timpuseng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, pada Rabu, 6 Agustus 2025.
Kegiatan yang berlangsung di Madrasah Tsanawiyah Matajang ini dihadiri oleh puluhan peserta, termasuk Kepala Desa Timpuseng, perangkat desa, Bhabinkamtibmas (BIMAS), Babinsa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, tokoh pemuda, mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia serta warga setempat.
Seminar ini menjadi ajang pemaparan lima program unggulan mahasiswa KKN yang dirancang untuk memberdayakan masyarakat, mulai dari pencegahan stunting hingga pengelolaan sampah plastik.
Program unggulannya puding daun kelor untuk Cegah Stunting. Dimana Salah satu program yang mendapat perhatian besar adalah pembuatan puding dari daun kelor sebagai upaya pencegahan stunting.
Daun kelor dipilih karena kandungan nutrisinya yang tinggi, seperti protein, zat besi, kalsium, dan vitamin A. Namun, pemanfaatannya masih minim karena kurangnya pengetahuan masyarakat dan daya tarik olahan.
Koordinator Desa KKN 77 UINAM Posko 8 Desa Timpuseng memaparkan mengenai rancangan program kerja pada aspek Stunting.
“Stunting masih menjadi masalah serius di Indonesia, termasuk di Desa Timpuseng yang memiliki 9 kasus stunting. Melalui program ini, kami ingin mengedukasi ibu-ibu dan kader posyandu tentang pentingnya gizi seimbang dan cara mengolah daun kelor menjadi makanan menarik seperti puding,” jelas Fadhil.
Program ini juga bertujuan mendorong kebiasaan konsumsi makanan bergizi sejak dini dan memanfaatkan bahan pangan lokal secara berkelanjutan.
Kepala Desa Timpuseng, Drs. Muhammad Arsyad, menyambut baik inisiatif mahasiswa KKN.
“Stunting adalah isu nasional yang membutuhkan solusi konkret. Kami berharap kehadiran mahasiswa UINAM bisa membantu mengurangi angka stunting di desa kami, baik melalui edukasi maupun pendampingan langsung ke keluarga yang terdampak,” ujarnya.
Adapun inovasi bedak dingin alami serta pengelolaan sampah plastik, selain program stunting, mahasiswa KKN juga ingin memperkenalkan pembuatan bedak dingin alami dari bahan lokal seperti labu sebagai tabir surya tradisional.
Program ini bertujuan mengajarkan masyarakat cara merawat kulit dengan bahan alami yang aman dan terjangkau.
Di sisi lain, pengelolaan sampah plastik menjadi program ketiga yang diusung.
“Sampah plastik bisa di daur ulang menjadi kerajinan bernilai ekonomi,” papar Fadhil.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa beserta Aparat Keamanan. Dimana Bhabinkamtibmas Desa Timpuseng, Aipda Supriyatna, mengapresiasi program mahasiswa KKN.
“Khususnya program stunting, ini sejalan dengan prioritas nasional. Kami siap mendukung kolaborasi dengan Puskesmas Camba untuk penanganan lebih lanjut,” ujarnya.
Sementara itu, Babinsa Desa Timpuseng, Suhardi Hamid, menekankan pentingnya pendekatan partisipatif.
“Masyarakat di sini sangat terbuka jika diajak berkolaborasi. Kami berharap program ini bisa terus berkelanjutan,” tuturnya.
Kepala Desa berharap program KKN tidak berhenti setelah mahasiswa pulang.
“Edukasi tentang stunting dan kesehatan harus terus dilakukan. Kami berharap UINAM bisa kembali ke Timpuseng di masa depan,” kata Arsyad.
Seminar ini ditutup dengan diskusi hangat antara mahasiswa, perangkat desa, dan warga. Rencana aksi segera dilaksanakan, termasuk pelatihan pembuatan puding kelor dan bedak dingin, serta pendampingan door-to-door untuk keluarga dengan anak stunting.
Selain fokus pada isu kesehatan dan lingkungan, mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar juga mengusung program keagamaan dan sosial melalui Festival Anak Sholeh dan perbaikan Poskamling di Dusun Burrung.
Kedua program ini dirancang untuk memperkuat karakter Islami anak-anak sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan.
Adapun rencana program kerja Festival Anak Sholeh dialokasikan sebagai wadah pengembangan bakat keagamaan, ditujukan untuk anak-anak MI/MTS di tiga dusun (Matajang, Burrung, dan Ara) agar bisa mengasah keterampilan dalam kegiatan keislaman seperti adzan, ceramah, dan hafalan surat pendek.
“Kami ingin menumbuhkan kecintaan anak-anak pada agama sekaligus meningkatkan kepercayaan diri,” jelas Fadhil Darmansyah.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari tokoh masyarakat.
“Pendidikan agama adalah pondasi moral. Kami berterima kasih kepada mahasiswa KKN yang telah memfasilitasi ini,” ujar salah satu masyarakat.
Program lain yang tak kalah penting adalah perbaikan Poskamling di Dusun Burrung. Poskamling yang sebelumnya kurang terawat akan dibenahi menjadi tempat berkumpul warga sekaligus pusat keamanan.
“Ini usulan langsung dari Kepala Dusun. Poskamling yang nyaman akan mendorong partisipasi pemuda dalam ronda malam,” terang Kordes.
Kepala Desa Timpuseng menyatakan kesetaraan dukungan untuk semua posko KKN.
“Kami tidak membeda-bedakan Posko 7 dan 8. Semua program yang bermanfaat akan kami dukung,” tegas Arsyad.
Keberhasilan program KKN 77 UINAM Alauddin Makassar di Desa Timpuseng tidak lepas dari kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, aparat keamanan, dan masyarakat.
Lima program unggulan yang dipaparkan dalam seminar telah memicu antusiasme warga, terutama dalam penanganan stunting dan pengelolaan lingkungan.
Bhabinkamtibmas Aibda Supriyatna dan Babinsa Suhardi Hamid sepakat bahwa pendekatan partisipatif mahasiswa KKN adalah kunci keberhasilan. “Masyarakat di sini sangat responsif jika diajak dialog,” kata Suhardi.
Meski hanya berlangsung 45 hari, mahasiswa KKN optimis programnya akan berkelanjutan.
Kepala Desa berharap program seperti daur ulang sampah dan poskamling bisa menjadi legacy jangka panjang.
“Ini adalah investasi untuk masa depan Desa Timpuseng,” pungkas Arsyad. (*)
















