Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
NewsNasional

Kurikulum, Lingkungan Hidup dan Social Entrepreneurship

×

Kurikulum, Lingkungan Hidup dan Social Entrepreneurship

Sebarkan artikel ini

Dengan pendekatan sociopreneurship ini, eksploitasi lingkungan hanya dapat dilakukan apabila memenuhi syarat berikut: aktivtitas pengelolaan lingkungan dilakukan oleh warga masyarakat sendiri yang akan mengambil manfaatnya; pengambilan keputusan tidak berdasarkan pada kepentingan pemilik modal atau korporasi yang eksploitatif; aktivitasnya melibatkan mereka yang terkena dampak dari masalah sosial, seperti warga miskin di sekitarnya; distribusi pembagian keuntungan yang terbatas; dan terdapat tujuan yang jelas yang nyata bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri.

Prasyarat ini perlu diadopsi karena lingkungan juga memiliki sifat yang abadi yakni: segala sesuatu di alam ini berhubungan dengan segala sesuatunya yang lain; segala sesuatu di alam ini bergantung dengan segala sesuatunya yang lain; tidak ada yang bebas begitu saja di alam ini; dan, alam mengerti yang terbaik. Jika lingkungan diperlakukan secara eksklusif dan eksploratif maka alam akan membalasnya dengan lebih kejam (natural revenge).

Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

Ke empat, Prof Dr Henry Eryanto, MM, Bidang Ilmu Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi yang telah menyoroti isu Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi: Dinamika, Tantangan, dan Keberlanjutannya.

Dikemukakan bahwa sejak 1997, hampir seperempat abad silam, Dikti telah mengembangkan pendidikan kewirausahaan dengan berbagai program, yaitu Kegiatan Kuliah Kewirausahaan (KWU), Magang Kewirausahaan (MKU), Kuliah Kerja Usaha (KKU), Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan (PPBK), Inkubator Wirausaha Baru (INWUB), Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja (KBPK), dsb.

Semua program kewirausahaan yang inovatif itu, sayang sekali tidak terawat keberlanjutannya. Banyak kebijakan yang telah diberlakukan di masa lalu yang begitu bagus dengan biaya yang tentu amat besar tapi hanya bertahan sebatas era satu priode atau sebatas masa kepemimpinan Menteri yang bersangkutan.

Semoga, kebijakan baru Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM), dapat dirawat keberlangsungannya. Perguruan Tinggi juga dapat meningkatkan kemitraannya dengan dunia usaha dan industri, melibatkan praktisi dalam pembelajaran di Kampus dengan konsep pembelajaran problem based dan product/team based learning, yang selanjutnya dapat diistilahkan dengan project based learning.

Misalnya, jika sabuk kelapa yang berserakan di mana-mana di satu daerah, ini dapat menjadi masalah pembelajaran (problem based). Namun jika kulit kelapa itu diambil seratnya sebagai bahan baku pembuatan perabot rumah tangga, tali, atap rumah, dinding, kursi, dsb. Pembelajaran itu membuahkan hasil nyata (product based). Hasilnya dapat dijadikan proyek kerjasama (project-based) dengan dunia usaha dan industri yang dapat memberi keuntungan semua pihak.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel diatas?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by ExactMetrics