Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
SIDRAP

HUT ke-81 RI di Tolikara, Willem Wandik: Kritik Rakyat Harus Jadi Alarm Pemerintah

×

HUT ke-81 RI di Tolikara, Willem Wandik: Kritik Rakyat Harus Jadi Alarm Pemerintah

Sebarkan artikel ini

TOPNEWS1.ONLINE, KARUBAGA — Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Tolikara berlangsung khidmat di Karubaga, Senin (17/8/2026). Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos. bertindak sebagai pembina upacara.

Mengusung tema nasional “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur,” peringatan kemerdekaan tahun ini menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Tolikara untuk memperkuat komitmen terhadap pelayanan publik, pemerataan pembangunan dan perdamaian.

Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

Dalam amanatnya, Willem Wandik menyampaikan pesan yang cukup tegas kepada jajaran pemerintah. Ia meminta pemerintah tidak alergi terhadap kritik masyarakat, karena kritik merupakan bagian penting dalam mengevaluasi kinerja pemerintahan.

“Pada hari kemerdekaan ini, saya tidak berdiri di hadapan rakyat untuk mengumumkan bahwa pemerintah telah berhasil. Saya berdiri untuk mengajak kita semua bertanya: sudahkah kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh rakyat?” ujar Willem.

Menurutnya, jabatan pemerintahan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Karena itu, setiap kritik yang disampaikan secara jujur harus diterima sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan.

“Jangan cepat marah ketika dikritik. Jangan merasa jabatan membuat kita selalu benar. Kritik yang jujur adalah alarm agar pemerintah tidak tertidur,” tegasnya.

Willem juga menekankan bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati melalui seremoni. Makna kemerdekaan harus benar-benar dirasakan masyarakat melalui pelayanan yang baik, pembangunan yang merata, keadilan serta terciptanya rasa aman dan damai.

Ia mengangkat konsep “Tolikara Tanah Injil – Tanah Damai” sebagai bagian dari identitas dan arah pembangunan daerah. Nilai keagamaan dan budaya, kata dia, harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui persaudaraan, pengampunan, musyawarah dan pelayanan kepada masyarakat.

Willem menegaskan, perdamaian merupakan salah satu fondasi utama pembangunan Tolikara. Tanpa kondisi yang aman dan damai, berbagai sektor pelayanan publik dan ekonomi akan sulit berkembang.

“Tanpa damai, sekolah tidak berjalan baik. Puskesmas tidak melayani dengan tenang. Guru dan tenaga kesehatan enggan bertugas. Pasar sepi dan investor tidak datang,” ujarnya.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Tolikara mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari gereja, tokoh adat, perempuan, pemuda, intelektual, TNI, Polri, DPRK hingga masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi kondusif dan mendukung pembangunan.

Dalam kepemimpinan Willem Wandik bersama Wakil Bupati Yotam Wonda, pemerintah daerah menyatakan terus melakukan pembenahan di berbagai sektor, termasuk pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, ekonomi kampung, kebudayaan, kehidupan keagamaan serta pembangunan infrastruktur.

Namun, Willem tidak menampik masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Beberapa di antaranya adalah akses antarwilayah, pemerataan pendidikan dan kesehatan, transportasi udara perintis, listrik, air bersih, penguatan ekonomi kampung, lapangan kerja bagi generasi muda serta peningkatan kualitas pelayanan pemerintahan.

“Kita tidak akan menutupi kekurangan-kekurangan itu dengan pidato,” katanya.

Ia memastikan pemerintah akan terus melakukan pembenahan dengan membuka ruang bagi masukan masyarakat serta melibatkan berbagai unsur dalam mencari solusi atas persoalan yang dihadapi daerah.

Willem juga menjelaskan bahwa tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” harus diterjemahkan secara nyata dalam konteks pembangunan Tolikara.

Menurutnya, kedaulatan harus tercermin dari kemampuan masyarakat menyampaikan aspirasi serta adanya penghormatan terhadap hak-hak adat. Sementara keadilan pembangunan harus memastikan masyarakat di kampung maupun wilayah yang sulit dijangkau memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan, kesehatan, infrastruktur, komunikasi, transportasi dan pelayanan pemerintahan.

Adapun kemakmuran, lanjut Willem, harus diwujudkan melalui peningkatan akses pasar bagi hasil kebun masyarakat, kesempatan kerja dan keterampilan bagi generasi muda serta pelayanan dasar yang mudah dijangkau.

“Itulah pekerjaan besar yang belum selesai. Karena itu pada 17 Agustus ini, kita tidak ingin membuat janji yang berlebihan. Kita ingin memperbarui cara bekerja: lebih hadir, lebih terbuka, lebih disiplin, lebih adil, lebih dekat kepada kampung, dan lebih setia pada amanat RPJMD Tolikara 2025-2029,” ujarnya.

Di hadapan peserta upacara, Willem juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Ia mengajak pemuda Tolikara memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk hal-hal produktif, seperti mempromosikan budaya, hasil kebun, pariwisata, pendidikan dan karya kreatif daerah.

Namun, ia mengingatkan agar generasi muda tetap kritis sekaligus bertanggung jawab dalam menggunakan ruang digital.

“Kalian boleh kritis kepada Bupati. Kalian boleh kritis kepada pemerintah. Bahkan kalian harus kritis. Tetapi jadilah generasi yang mampu menawarkan jalan keluar,” pesannya.

Ia juga mengajak masyarakat membedakan kritik, aspirasi, fitnah dan provokasi agar kebebasan menyampaikan pendapat tetap menjadi kekuatan untuk membangun daerah.

Menutup amanatnya, Willem menegaskan bahwa kemajuan Tolikara tidak dapat dibebankan kepada seorang kepala daerah saja. Pembangunan membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan.

“Tolikara akan maju bukan karena satu orang Bupati. Tolikara akan maju apabila seluruh rakyat merasa memiliki, seluruh pemimpin mau melayani, dan Tuhan tetap menjadi pusat kehidupan kita,” pungkasnya.

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Tolikara pun menjadi momentum untuk memperbarui semangat bersama dalam membangun daerah melalui pelayanan yang lebih baik, pemerataan pembangunan, keterbukaan terhadap kritik, kerja keras serta komitmen menjaga perdamaian.

Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia. Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur. Tolikara Religius, Berbudaya, Mandiri, Adil, dan Sejahtera. Tolikara Tanah Injil – Tanah Damai. (ibe) 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel diatas?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by ExactMetrics