TOPNEWS1.ONLINE.BONE. — Mahasiswa KKN-T Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja mandiri KOMPAS (Kelola, Olah, dan Peroleh Manfaat Sampah Plastik) di Desa Hulo, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah plastik sekaligus mendorong pemanfaatannya agar memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Kegiatan ini dipandu dan diawasi oleh Andi Besse Tenri Rugaya B, mahasiswi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin.
Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama Pemerintah Desa Hulo sebagai bentuk sinergi dalam pelaksanaan program. Setelah itu, mahasiswa membagikan trashbag kepada masyarakat untuk memudahkan proses pengumpulan dan pemilahan sampah plastik dari sampah rumah tangga lainnya. Langkah ini dilakukan sebagai upaya membangun kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.
Selanjutnya, mahasiswa bersama masyarakat melakukan pemilahan sampah plastik berdasarkan jenis dan kondisinya. Sampah plastik yang masih layak dimanfaatkan kemudian diolah menjadi berbagai kerajinan tangan, seperti gantungan kunci dan produk kreatif lainnya yang memiliki nilai guna.
Sementara itu, sampah plastik yang tidak diolah tetap memiliki nilai ekonomi karena dapat dikumpulkan dan dijual kepada pengepul atau penjual plastik yang berada di sekitar Desa Hulo.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan bahwa sampah plastik bukan sekadar limbah, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan apabila dikelola dengan baik.
Sebagai bagian dari edukasi lingkungan, program KOMPAS juga menyasar siswa sekolah dasar pada Hari Kamis, 23 Juli 2026 di SD INPRES 12/79 HULO melalui kegiatan sosialisasi mengenai dampak sampah plastik terhadap lingkungan, khususnya ekosistem laut, serta pentingnya membiasakan pengelolaan sampah sejak usia dini. Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan cara memanfaatkan sampah plastik melalui praktik pembuatan ecobrick dan demonstrasi pembuatan gantungan kunci dari plastik bekas.
Metode praktik dipilih agar siswa dapat memahami materi secara langsung sekaligus menumbuhkan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan.
Andi Besse Tenri Rugaya B Mengatakan , pengelolaan sampah plastik tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Melalui program KOMPAS, kami ingin menunjukkan bahwa sampah plastik masih memiliki nilai apabila dikelola dengan baik. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, masyarakat juga dapat memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pemilahan dan penjualannya,” ujar Andi Besse Tenri Rugaya B selaku pelaksana program.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, diharapkan masyarakat Desa Hulo semakin sadar akan pentingnya memilah dan mengelola sampah plastik secara berkelanjutan.
Program KOMPAS diharapkan mampu menumbuhkan budaya peduli lingkungan, meningkatkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sampah plastik, serta membuka peluang ekonomi melalui penjualan sampah plastik dan hasil kerajinan berbahan dasar plastik bekas. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan bernilai.(Tenri/dso).
















