SIDRAP — Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu pilar utama dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Program ini tidak hanya menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah, tetapi juga menjadi representasi dan wajah institusi di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, setiap tahap dalam pelaksanaan KKN, termasuk sesi pembekalan, memegang peranan yang sangat krusial. Pembekalan adalah gerbang awal yang seharusnya mempersiapkan mahasiswa secara mental, teknis, dan substantif. KKN, bagi kami, adalah puncak dari perjalanan akademis, sebuah panggung di mana teori dan idealisme diuji oleh realitas. Ia adalah wajah universitas kami di mata publik. Ekspektasi kami tinggi, semangat kami membuncah.
Namun, semangat itu perlahan pudar begitu kami melihat kondisi yang padat di dalam Auditorium. Pintu masuk seolah menjadi gerbang menuju ruang ujian ketahanan. Auditorium yang megah itu terasa menyusut, sesak oleh ribuan tubuh yang berimpitan. Akal sehat saja sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa memadatkan hampir tiga ribu orang dalam satu ruangan untuk satu hari penuh adalah sebuah resep kegagalan. Hal ini tak pelak memantik sebuah pertanyaan sinis di benak kami: apakah memecah acara menjadi beberapa sesi atau gelombang adalah sebuah pekerjaan yang terlalu merepotkan bagi pihak kampus? Ataukah ada semacam kemalasan kolektif oleh pihak kampus yang membuat opsi termudah meski paling tidak tidak nyaman bagi mahasiswa akhirnya dipilih?
Situasi diperburuk dengan udara panas dan pengap yang langsung menyergap, sebuah pertanda bahwa sistem pendingin ruangan (AC) hanyalah hiasan dinding. Apa yang seharusnya menjadi sesi dialogis dan pencerahan, berubah menjadi perjuangan personal melawan dehidrasi dan panas.
Materi yang disampaikan dari panggung terdengar sayup-sayup, kalah oleh suara gelisah dan kibasan buku dan kertas yang dialihfungsikan menjadi kipas darurat. Pihak penyelenggara, dengan alasan yang tak kami pahami, menginstruksikan kami membawa bekal sendiri. Tak ada segelas air pun yang disediakan.
Di sudut lain, fasilitas dasar seperti sabun di toilet pun nihil. Detail-detail kecil ini mungkin terlihat sepele, namun secara akumulatif ia mengirimkan sebuah pesan yang jelas: kenyamanan kami, para peserta, bukanlah prioritas.
Puncaknya tak terhindarkan. Satu per satu, lalu dalam gelombang yang lebih besar, mahasiswa mulai memilih untuk menyerah pada kondisi.
Mereka berdiri dan berjalan keluar, bukan karena tidak hormat, melainkan karena tubuh mereka menuntut haknya atas udara segar dan kondisi yang lebih manusiawi. Auditorium yang tadinya penuh sesak, perlahan melompong. Pembekalan itu gagal bahkan sebelum mencapai klimaksnya.
Terjadi sebuah eksodus massal yang menyisakan pertanyaan besar di benak kami.
Kejadian ini lebih dari sekadar masalah teknis atau kelalaian logistik. Ini adalah cerminan dari cara sebuah institusi memandang dan mempersiapkan program sepenting KKN.
Bagaimana mungkin kita bisa berbicara tentang pengabdian besar kepada masyarakat, jika untuk mempersiapkan “duta-duta”-nya sendiri dalam sebuah ruangan yang layak pun kita belum mampu? Efektivitas transfer informasi yang menjadi tujuan utama pembekalan sepenuhnya lumpuh. Pesan sepenting apa pun tidak akan pernah sampai jika audiensnya sibuk berjuang untuk sekadar bernapas dengan lega.
Maka, tulisan ini bukanlah sebuah keluhan, melainkan sebuah undangan untuk berefleksi. Sudah saatnya UIN Alauddin Makassar melakukan evaluasi mendalam terhadap manajemen acara berskala besar. Perencanaan ke depan harus berbasis data, bukan asumsi.
Jika satu auditorium tidak cukup, mengapa tidak mempertimbangkan sesi paralel atau model acara hybrid yang lebih inovatif dan manusiawi? Melibatkan perwakilan mahasiswa dalam perencanaan mungkin bisa menjadi langkah awal untuk memastikan perspektif kami didengar sebelum acara berlangsung, bukan sesudahnya dalam bentuk kritik.
Semoga hiruk pikuk di dalam auditorium panas hari itu tidak hanya menjadi kenangan buruk, tetapi menjadi titik balik untuk perbaikan yang nyata. Karena kesuksesan KKN tidak dimulai saat kami tiba di lokasi pengabdian, melainkan saat almamater melepas kami dengan persiapan, rasa hormat, dan fasilitas yang paling layak. (ibe)Â

















