Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
SIDRAP

Pembelajaran Sosial Emosional, “Koneksi Antar Materi”

×

Pembelajaran Sosial Emosional, “Koneksi Antar Materi”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rahmat Ahmad, S.Pd., M.Pd (CGP SMAN 2 SIDRAP Angkatan 3 Kab. Sidrap)

SIDRAP — Emot ikon di media sosial atau dalan chatting sering sekali kita jumpai dengan warna yang dominan kuning, hijau, bahkan merah. Ikon tersebut memudahkan kita untuk mengenali emosi lewat gambar bentuk wajah. Bahagia, sedih, kecewa, marah, kaget . Ini dibutuhkan untuk mengelola emosi kita sebagai manusia.

Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

A. Kolaborasi dalam Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)
Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) yang ditujukan untuk jenjang pendidikan usia dini hingga menengah ini dikembangkan pada tahun 1994 oleh sekelompok pendidik, peneliti, dan pendamping anak (salah satunya adalah Psikolog Daniel Goleman, pencetus teori Kecerdasan Emosi). PSE adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

PSE bertujuan memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi), membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab). Implementasi PSE dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara spesifik dan eksplisit, Mengintegrasikan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid, Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid, Mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain dan lingkungan.

B. Koneksi Pembelajaran Sosial Emosional dengan materi modul sebelumnya
Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara.Belajar sambil bekerja dan berlatih mengabdi masyarakat. Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam belajar dan bekerja (non akademis) yaitu harus sesuai dengan dasar dasar rokhani dan jasmani, harus sesuai pula dengan kecakapan dan kecerdasan, harus sesuai dengan kepentingan masyarakat. Sistem Pendidikan dan pengajaran mendapat pengaruh dari luar dimana ada yang intelektualistis (sifat berfikir semata-mata dan tidak untuk diamalkan), individualistic (mengagungkan diri dan tidak mementingkan hidup bersama), dan materialistic (mengutamakan kenikmatan hidup kebendaan dan tidak menghargai nilai nilai kebathinan. Dari hal tersebut perlu untuk memakai pengaruk kejiwaan dengan disokong oleh budi pekerti baik dalam pengajaran keagamaan, kesusilaan, dan metode lainnya. Memakai organisasi ekstrakurikuler baik kegiatan olahraga, seni, budaya, dan lain lain. Ada juga sistem arbeitschula dengan bekerja sambil belajar yang dipraktekkan di sekolah Kayutaman binaan Moch.Syafei. Ada juga aliran belajar sambil bekerja misalnya dengan kerajinan tangan di sekolah. Usaha sesungguhnya adalah murid diberikan pelajaran dan praktek bekerja misalnya pertanian, pertukangan di desa, perdagangan di kota, perikanan, dan sebagainya. Mendekatkan murid kepada alam pekerjaan akan menjadi bagian dari pengabdian masyarakat. ( Buku Ki Hajar Dewantara, hal.191-193 )
Nilai dan Peran Guru Penggerak.

Profil pelajar Pancasila yang termaksud adalah terciptanya pelajar yang berketuhanan yang Maha Esa dan Berakhlak mulia, bergotong royong, inisiatif dengan kemandirian, kreatif, kritis, dan mampu menghadapi tantangan global. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan nilai dan peran guru yang mampu berpihak pada murid dan membangun kolaborasi untuk menggerakkan well being sekolah melalui pembelajaran sosial emosional.
Visi Guru Penggerak.

Visi dimulai dari diri sendiri hingga visi sekolah. Visi ini akan melahirkan murid impian yang tumbuh dan berkembang sesuai kodrat zaman dan alam. Sekolah membuka diri dalam hal menemukan iklim intelektual dengan emosi dengan kedewasaan membangun pengaruh dari diri dan menginspirasi warga sekolah lain dengan pembelajaran dan pengalaman baik, murid akan ilmiah, memerdekaan diri dan orang lain serta berpihak pada murid melalui pembelajaran sosial emosional.

Budaya Positif. Ruang pembelajaran menjadi pemandangan setiap hari sekolah dengan penanaman dan pembiasaan budaya positif. Guru dan murid saling memahami emosi dengan mengelolanya dengan empati dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Budaya positif menumbuhkan banyak pembelajaran sosial emosional didalamnya.

Diferensiasi Pengajaran
Diferensiasi pengajaran bermaksud menyesuaikan dasar kejiwaan murid masing masing agar memudahkan kemajuan serta perkembangan akal budinya menurut kodratnya masing-masing, bentuk nyata yaitu lewat pembagian jurusan IPA, IPS, BAHASA, atau PERTANIAN, PETERNAKAN, KELISTRIKAN, OTOMOTIF, DLL. Korelasi antara Diferensias Pengajaran dan Pembelajaran sosial emosional dengan mempertimbangkan kesiapan belajar, minat, dan profil murid. Biasanya treatment ini dilakukan diawal semester tentunya dengan kemampuan guru memetakan murid yang memiliki kelebihan tertentu. (*)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel diatas?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by ExactMetrics