Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
MAKASSAR

Resmikan Balai Sarkiah di Takalar, Perjalanan Menag dengan Jet Pribadi OSO Dinilai Bukan Gratifikasi

×

Resmikan Balai Sarkiah di Takalar, Perjalanan Menag dengan Jet Pribadi OSO Dinilai Bukan Gratifikasi

Sebarkan artikel ini

TOPNEWS1.ONLINE, TAKALAR — Kunjungan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, ke Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, menggunakan jet pribadi milik tokoh nasional Oesman Sapta Odang menuai beragam respons di media sosial. Namun sejumlah pihak menegaskan, penggunaan fasilitas tersebut tidak mengandung unsur gratifikasi.

Kehadiran Menag di Takalar dalam rangka meresmikan Balai Sarkiah, yayasan keagamaan milik keluarga besar OSO. Agenda tersebut disebut sebagai bentuk pemenuhan undangan sahabat, di tengah padatnya jadwal kementerian.

Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama RI, Thobib Al Asyhar, sebelumnya menjelaskan bahwa inisiatif penyediaan jet pribadi sepenuhnya berasal dari tuan rumah.

“Pak OSO secara khusus mengundang dan berharap Balai Sarkiah diresmikan Menag. Pak OSO yang berinisiatif menyiapkan jet pribadi agar beliau bisa hadir di tengah agenda yang padat,” ujarnya di Jakarta, Senin (16/2).

Menurut Thobib, seluruh moda transportasi dalam kunjungan tersebut disiapkan panitia kegiatan tanpa adanya permintaan dari pihak Menteri Agama.

Sorotan publik kemudian ditanggapi oleh LKBH Citra Bangsa. Direktur LKBH Citra Bangsa, Dr. Rahman, menegaskan bahwa penggunaan jet pribadi dalam konteks tersebut jauh dari unsur gratifikasi.

“Prof Nasaruddin Umar hadir sebagai Menteri Agama untuk meresmikan balai yang bergerak di bidang keagamaan. Inisiatif transportasi datang dari panitia agar beliau dapat hadir di tengah kesibukannya. Itu baru bisa dikategorikan gratifikasi jika ada permintaan atau syarat tertentu dari pejabat yang bersangkutan. Dalam hal ini, tidak ada,” tegasnya.

Ia menambahkan, dalam praktiknya tokoh nasional dengan agenda padat kerap difasilitasi transportasi oleh penyelenggara kegiatan demi efektivitas waktu.

Menurutnya, publik perlu membedakan antara penggunaan fasilitas untuk kepentingan pribadi dan penggunaan fasilitas dalam rangka agenda resmi yang terbuka dan terjadwal.

“Berbeda konteksnya jika perjalanan bersifat pribadi atau tanpa agenda jelas. Dalam kasus ini, kegiatan bersifat terbuka, ada peresmian yayasan keagamaan, dan setelah itu beliau kembali ke Jakarta,” tambahnya.

Diketahui, hubungan antara OSO dan Prof Nasaruddin Umar telah terjalin lama, jauh sebelum keduanya menduduki posisi strategis. Selain itu, tidak terdapat hubungan kerja sama kelembagaan antara pihak OSO dan Kementerian Agama RI dalam kegiatan tersebut.

Sejumlah kalangan pun meminta agar polemik ini disikapi secara proporsional dengan melihat konteks serta kronologi kegiatan secara utuh, sehingga tidak berkembang menjadi opini yang menyesatkan di ruang publik. (ibe) 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel diatas?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by ExactMetrics