TOPNEWS1.ONLINE, BONE — Semangat peringatan Hari Buruh Internasional di Kabupaten Bone diwarnai aksi damai ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa IAIN Bone.
Mereka menggelar Mimbar Bebas May Day 2026 dan aksi solidaritas untuk korban kekerasan di kawasan Tugu Jam Kota Bone, Jumat (1/5/2026).

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 14.00 WITA hingga menjelang magrib ini berlangsung tertib dan damai, dengan dihadiri lebih dari 100 peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Suasana aksi diwarnai dengan berbagai ekspresi, mulai dari orasi, pembacaan puisi, hingga pertunjukan teater oleh SSB IAIN Bone yang menyuarakan keresahan sosial.
Presiden Mahasiswa IAIN Bone, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa mimbar bebas ini menjadi ruang refleksi kritis antara harapan dan realitas yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya bagi kaum buruh dan aktivis.
“Mimbar bebas ini diadakan untuk mempertanyakan apakah buruh sudah mendapatkan kesejahteraan dan keadilan, serta apakah aktivis di Kabupaten Bone benar-benar merasa aman tanpa intimidasi. Kami yakin masih banyak buruh yang mengeluh di lapangan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan awal dari konsistensi mahasiswa dalam mengawal kebijakan pemerintah.
“Ini bukan akhir, tetapi awal dari gerakan. Kami akan terus turun ke jalan mengawal keadilan,” tegasnya.
Sementara itu, Jenderal Lapangan, Muh. Saipul, menyoroti masih banyaknya persoalan mendasar yang dihadapi buruh di Kabupaten Bone, terutama terkait penunggakan upah dan lemahnya perlindungan hak normatif pekerja.
“Aksi ini bertujuan mendesak Dinas Ketenagakerjaan, Pemerintah Daerah, DPRD, serta perusahaan terkait agar segera bertanggung jawab menyelesaikan persoalan upah buruh secara adil dan tanpa penundaan,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa aksi ini menjadi bentuk solidaritas terhadap aktivis yang mengalami intimidasi serta tindakan represif. Dalam kesempatan tersebut, massa aksi turut menuntut jaminan keamanan bagi aktivis serta pembentukan tim pencari fakta independen atas kasus Andri Yunus.
Koordinator Lapangan, A. Reifaldi Jamal, menegaskan bahwa aksi damai ini merupakan refleksi kondisi buruh yang masih menghadapi ketimpangan dan kebijakan yang dinilai merugikan.
“Aksi ini diharapkan menjadi refleksi bagi pemerintah, masyarakat, dan mahasiswa agar lebih peka terhadap kondisi yang ada. Pertanyaannya, setelah ini esok apa lagi?” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya mendesak pengawasan ketat terhadap perusahaan yang menunggak upah, pembayaran penuh hak buruh tanpa penundaan, perlindungan hak normatif pekerja, hingga jaminan keamanan bagi aktivis dari segala bentuk intimidasi dan kekerasan.
Mimbar bebas ini menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh tidak hanya soal upah, tetapi juga berkaitan erat dengan keadilan sosial, kebebasan berekspresi, dan perlindungan terhadap suara kritis di tengah masyarakat. (Ibe)

















