TOPNEWS1.ONLINE, KAIRO — Kesuksesan tidak membuat Linawati Sukijo meninggalkan kebiasaan yang telah membesarkan usahanya. Di balik kiprahnya sebagai Founder sekaligus CEO Lina Sukijo Group, desainer muslim yang telah menembus berbagai panggung fashion nasional hingga internasional itu mengaku masih turun tangan langsung menyiapkan produk dagangannya sebelum dipasarkan.
Bagi Linawati, kebiasaan tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan cara menjaga kualitas, membangun kepercayaan, dan memastikan setiap produk yang sampai ke tangan pelanggan memenuhi standar yang telah ia tetapkan selama bertahun-tahun.
Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara pada sesi kedua seminar “The Entrepreneur’s Journey” bertajuk “Woman Entrepreneurship: Membangun Bisnis, Menjaga Nilai, Menciptakan Dampak” di Wisma Nusantara, Kairo, Kamis (30/7/2026).
“Kalau saya sendiri belum mau mengerjakannya, bagaimana saya bisa meminta orang lain mengerjakannya dengan sepenuh hati?” ungkapnya di hadapan peserta seminar.
Menurut Lina, sikap tersebut juga menjadi cara dirinya membangun budaya kerja di lingkungan perusahaan, termasuk ketika memberikan tanggung jawab kepada anak-anaknya yang kini ikut mengembangkan bisnis keluarga.
Berawal dari Keterampilan Sederhana
Mengawali pemaparannya, Linawati menceritakan bahwa dirinya tidak lahir dari lingkungan akademisi maupun keluarga pengusaha besar.
Sejak kecil, ia justru dibesarkan dengan tiga keterampilan dasar yang diajarkan kepada seorang perempuan, yakni menjahit, memasak, dan mencuci. Dari proses sederhana itulah kecintaannya terhadap dunia fashion tumbuh secara alami.
“Saya mencintai dunia fashion bukan karena dipaksa, tetapi karena memang tumbuh bersama kehidupan saya sejak kecil,” tuturnya.
Kecintaan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah usaha yang terus bertumbuh hingga dikenal sebagai salah satu brand fashion muslim Indonesia yang telah tampil lebih dari 30 kali pada berbagai ajang fashion week di dalam negeri. Lina Sukijo Group juga tercatat sebagai UMKM binaan pada 2020 dan berhasil menembus sejumlah panggung fashion internasional.
Tidak Mahir Berhitung, tetapi Percaya pada Kreativitas
Dalam suasana seminar yang berlangsung hangat, Linawati juga mengungkapkan sisi lain dirinya.
Ia mengaku bukan sosok yang piawai dalam urusan angka maupun perhitungan bisnis.
“Saya tidak pandai berhitung, tapi saya bisa mengolah visual, mengolah rasa,” katanya.
Menurutnya, setiap orang memiliki keterbatasan. Namun, kekurangan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkarya.
Sebaliknya, seseorang harus mampu mengenali kelebihan yang dimilikinya, lalu mengembangkannya menjadi kekuatan utama dalam membangun usaha.
Baginya, kreativitas, kepekaan terhadap desain, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar telah menjadi modal yang jauh lebih berharga dibanding sekadar kemampuan menghitung.
Kesuksesan Bukan untuk Saling Membandingkan
Dalam pemaparannya, Linawati juga mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap makna kesuksesan.
Ia menilai, kesuksesan bukanlah perlombaan untuk saling mengungguli atau membandingkan diri dengan orang lain.
Setiap orang memiliki perjalanan, waktu, dan rezeki yang berbeda.
Karena itu, ketika melihat orang lain berhasil, yang seharusnya dilakukan bukan iri hati, melainkan mendoakan agar keberhasilan tersebut membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Kalau orang lain sukses, doakan agar suksesnya membawa keberkahan. Rezeki setiap orang sudah diatur Allah,” ujarnya.
Amanah Menjadi Pondasi Bisnis Keluarga
Pada sesi diskusi, salah seorang peserta menanyakan bagaimana Lina Sukijo Group mampu mempertahankan keharmonisan bisnis keluarga, mengingat tidak sedikit perusahaan keluarga yang justru mengalami konflik ketika melibatkan anggota keluarga dalam pengelolaannya.
Menjawab pertanyaan tersebut, Linawati menjelaskan bahwa dirinya membangun sistem kerja berdasarkan kompetensi dan amanah.
Anak-anaknya memang diberi ruang untuk mengelola unit usaha sesuai bidang masing-masing, namun setiap tanggung jawab tetap harus dibuktikan melalui integritas dan profesionalisme.
Sementara itu, untuk urusan yang berkaitan langsung dengan pengelolaan keuangan perusahaan, ia mengaku tetap membatasi akses hanya kepada orang-orang yang telah teruji kejujuran dan dedikasinya.
“Saya tidak bisa mengontrol semuanya sendiri. Saya hanya berusaha maksimal, sisanya saya serahkan kepada Allah,” tuturnya.
Menurut Lina, amanah merupakan modal terbesar dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.
Karena itu, siapa pun yang mampu menjaga kepercayaan akan mendapatkan apresiasi sesuai dedikasi yang diberikan, mulai dari peningkatan kesejahteraan, dukungan pendidikan, hingga kesempatan menjalankan ibadah umrah sebagai bentuk penghargaan atas loyalitas dan kejujuran.
Menjaga Nilai Lebih Penting daripada Membesarkan Bisnis
Menutup pemaparannya, Linawati Sukijo mengingatkan bahwa tujuan membangun usaha bukan sekadar memperbesar omzet atau memperluas jaringan bisnis.
Yang jauh lebih penting adalah menjaga nilai-nilai yang menjadi fondasi sejak usaha itu dirintis.
Menurutnya, banyak perusahaan mampu tumbuh dengan cepat, tetapi tidak semuanya mampu bertahan karena kehilangan nilai yang dahulu menjadi kekuatan utamanya.
“Bagi saya, keberhasilan sebuah bisnis bukan hanya diukur dari besarnya perusahaan, tetapi dari sejauh mana kita mampu menjaga amanah, kualitas, dan nilai yang kita pegang sejak awal,” pungkasnya.
Seminar “The Entrepreneur’s Journey” menghadirkan kisah inspiratif Linawati Sukijo sebagai bukti bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari latar belakang yang sempurna.
Dengan berbekal kreativitas, kerja keras, konsistensi, serta komitmen menjaga amanah, ia berhasil membawa karya anak bangsa menembus panggung internasional tanpa pernah meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasi perjalanan bisnisnya. (ibe)
















