TOPNEWS1.ONLINE, SIDRAP — Berawal dari dapur rumah dengan modal hanya sekitar Rp100 ribu, La Pizza Sidrap kini berkembang menjadi usaha kuliner yang mampu memberdayakan 23 tenaga kerja.
Usaha milik Fatimatussuhara itu mulai dirintis pada Juni 2016. Saat itu, dapur dan kompor milik orang tuanya menjadi tempat produksi. Peralatan yang digunakan pun masih sangat sederhana.
Pizza menjadi produk pertama yang dibuat sekaligus menjadi inspirasi nama La Pizza Sidrap.
Dengan modal terbatas, Fatimatussuhara harus mencari cara agar tetap bisa memproduksi pizza tanpa membeli oven. Ia menggunakan teflon sebagai pemanggang dan tutup tanah liat atau palekko sebagai penutup.
Teknik tersebut terinspirasi dari cara tradisional masyarakat Bugis membuat roti berre dengan api kecil dan tutup tanah liat yang dipanaskan.
Cara sederhana itu bertahan sekitar tiga tahun. Seiring meningkatnya permintaan, La Pizza mulai berbenah. Pada pertengahan 2019, usaha ini menggunakan oven tangkring berukuran lebih besar yang mampu memanggang hingga 10 pan pizza dalam sekali proses.
Sepuluh tahun perjalanan membuat La Pizza bukan hanya berkembang dari sisi produksi, tetapi juga memberikan dampak bagi masyarakat sekitar.
Kini, 23 tenaga kerja terlibat dalam usaha tersebut. Sekitar 95 persen di antaranya merupakan warga Sidrap.
Bagi Fatimatussuhara, membangun usaha bukan sekadar mencari keuntungan. Ia ingin La Pizza menjadi ruang bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan pekerjaan dan berkembang bersama.
Meski begitu, perjalanan bisnis tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah mendapatkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan usaha.
Untuk mengatasinya, La Pizza memilih meningkatkan kemampuan karyawan melalui pelatihan dan aktif membangun jejaring dengan komunitas pengusaha, salah satunya TDA Sidrap.
Usaha yang beralamat di Jalan Bau Massepe, sebelah selatan Kantor PLN Maritengae, Pangkajene, Sidrap, itu kini juga menjadi penopang ekonomi keluarga.
Ke depan, Fatimatussuhara menargetkan La Pizza dapat membuka cabang di berbagai wilayah Ajatappareng. Harapannya, semakin banyak tenaga kerja lokal yang bisa diserap.
Ia juga mendorong anak muda Sidrap agar tidak takut memulai usaha meski dengan modal terbatas.
“Jangan takut memulai. Jangan hanya menjadi pedagang, tetapi tingkatkan pengetahuan bisnis agar kualitas hidup lebih baik dan bisa mencapai kemandirian finansial,” pesannya.
Perjalanan La Pizza menjadi bukti bahwa usaha besar tidak selalu dimulai dengan modal besar.
Kadang, semuanya berawal dari dapur sederhana, kemauan untuk belajar, dan keberanian untuk memulai. (ibe)
















