TOPNEWS1.ONLINE, ENREKANG — Festival Budaya Kaluppini 2026 resmi berakhir setelah berlangsung selama sepekan. Penutupan festival di Lapangan Puang Pina, Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Minggu (9/8/2026), berlangsung meriah sekaligus sarat pesan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur.
Bupati Enrekang Muhammad Yusuf Ritangnga hadir langsung dalam penutupan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Festival Budaya Kaluppini bukan sekadar kegiatan seremonial atau hiburan tahunan.
“Festival ini bukan sekadar sebuah perayaan, tetapi menjadi ruang untuk menjaga warisan leluhur, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan kembali identitas dan kebanggaan kita sebagai masyarakat Enrekang,” kata Yusuf Ritangnga.
Ribuan masyarakat dan pengunjung memadati lokasi festival yang digelar sejak 3 Agustus 2026. Selama tujuh hari, berbagai kekayaan seni dan budaya Kaluppini ditampilkan, mulai dari tari kreasi lokal, drama, Makkelong, Manca, Masisemba, Mapau Nene, Makkarume, Manganjing, Mappadendang, suling, kacapi, musikalisasi puisi, Makkarumbing hingga live painting.
Beragam pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun kepada generasi muda.
Kemasan festival semakin semarak dengan pawai budaya. Ratusan peserta tampil mengenakan pakaian adat khas Enrekang. Kaum perempuan dan pemuda mengenakan busana tradisional sambil membawa kampilo dan roko anyaman yang terbuat dari hasil pertanian masyarakat setempat.
Sementara kaum laki-laki membawa perlengkapan pertanian seperti cangkul dan parang. Para pemuda tampil dengan kostum berburu lengkap dengan tombak, sedangkan anak-anak ikut meramaikan pawai menggunakan sarung dan passapu serta membawa permainan tradisional.
Festival juga menghadirkan pameran benda-benda bersejarah dan berbagai warisan kehidupan masyarakat masa lalu. Pengunjung dapat melihat sekaligus mengenal makanan tradisional seperti bassang, umbi-umbian, cucur, sinole, onde-onde, le’pa hingga putu bettawe.
Tidak hanya kuliner, peralatan pertanian, perlengkapan dapur dan permainan tradisional seperti mabaraccung, gasing, piri-piri, jengka dan bicco turut diperkenalkan kepada masyarakat.
Salah satu momen penting dalam festival adalah tradisi Mettoto. Tradisi tersebut menjadi ungkapan rasa syukur yang dilakukan melalui kegiatan berkumpul dan makan bersama menggunakan daun jati atau maballa.
Dalam tradisi ini, masyarakat duduk bersama tanpa membedakan derajat maupun status sosial. Enam desa turut tergabung dalam tradisi tersebut, yakni Desa Kaluppini, Lembang, Ranga, Tokkonan, Rosoan dan To Balu.
Bupati Yusuf Ritangnga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kaluppini, tokoh adat, tokoh agama, panitia, seniman serta seluruh pihak yang bergotong royong menyukseskan festival tersebut.
Ia berharap semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya tidak berhenti setelah festival berakhir, tetapi terus hidup dalam kehidupan masyarakat dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Menurutnya, pemerintah bersama masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memastikan tradisi dan warisan leluhur tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
“Festival adat yang diselenggarakan setiap tahun seperti ini harus kita dukung sepenuhnya, termasuk oleh pemerintah, sebagai upaya melestarikan budaya kita. Tradisi ini merupakan warisan luhur yang sangat berharga dari para leluhur dan menjadi tanggung jawab bersama untuk terus dijaga serta dilestarikan,” tegasnya.
Bagi masyarakat Kaluppini, berakhirnya festival bukan berarti berakhir pula kehidupan adat dan budaya. Justru, penutupan menjadi pengingat bahwa nilai-nilai yang diwariskan leluhur harus tetap hidup di tengah keluarga dan masyarakat.
“Budaya kita adalah jati diri kita. Sampai jumpa di Festival Budaya Kaluppini berikutnya,” pungkas Yusuf Ritangnga.
Festival Budaya Kaluppini 2026 pun ditutup dengan pesan kuat: panggung boleh dibongkar, pertunjukan boleh berakhir, tetapi adat, tradisi dan identitas masyarakat harus terus menyala dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Andi Erna)
















