Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Nasional

Dari Relawan Pendidikan dan Awardee Beasiswa, Ahsan Muzri.S Rilis Novel Cahaya di Pelosok Negeri

×

Dari Relawan Pendidikan dan Awardee Beasiswa, Ahsan Muzri.S Rilis Novel Cahaya di Pelosok Negeri

Sebarkan artikel ini

TOPNEWS1.ONLINE — Pengalaman menjadi relawan pendidikan sejak tahun 2018 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Ahsan Muzri.S. Dari pengabdian itulah lahir sebuah novel berjudul Cahaya di Pelosok Negeri, karya yang ia persembahkan untuk menyuarakan pendidikan di daerah pelosok Indonesia.

Bagi Ahsan, pelosok bukan sekadar tempat yang jauh dari pusat kota. Pelosok adalah ruang tempat ia belajar tentang ketulusan, keterbatasan, dan harapan. Ia pernah melihat bagaimana anak-anak datang ke sekolah dengan semangat besar, meski fasilitas belajar tidak selalu memadai dan jumlah guru masih terbatas.

Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

“Saya banyak belajar dari anak-anak pelosok. Mereka mungkin belajar di ruang yang sederhana, tetapi semangat mereka tidak sederhana. Dari sanalah saya merasa bahwa kisah mereka harus terus disuarakan,” kata Ahsan.

Novel Cahaya di Pelosok Negeri mengisahkan Fajar, mahasiswa pendidikan semester akhir yang merasa hidupnya belum benar-benar bermakna. Sebuah berita tentang sekolah pelosok yang kekurangan guru membangkitkan ingatannya kepada Bu Ratna, guru masa kecil yang pernah membantunya terhindar dari putus sekolah. Kenangan itu membawa Fajar pada keputusan untuk menjadi relawan pendidikan di sebuah desa terpencil di timur Indonesia.

Namun, perjalanan Fajar tidak selalu mudah. Ia menemukan bahwa pendidikan tidak cukup dipahami melalui teori di ruang kuliah. Di sekolah sederhana itu, ia bertemu Pak Rahman, Beni, Siti, dan Raka, serta anak-anak lain yang datang ke sekolah dengan cerita hidup masing-masing. Dari mereka, Fajar memahami bahwa menjadi pendidik berarti hadir, mendengar, memahami, dan menjaga harapan agar tetap menyala.

Meski saat ini Ahsan lebih banyak disibukkan dengan aktivitas perkuliahan sehingga tidak sesering dulu turun langsung ke pelosok, semangat pengabdiannya tidak berhenti. Ia memilih menulis sebagai cara lain untuk tetap memberi kontribusi.

“Sekarang mungkin saya belum bisa sesering dulu turun langsung ke pelosok karena kesibukan kuliah. Tapi saya tidak ingin kepedulian itu berhenti. Melalui novel ini, saya ingin tetap hadir, tetap menyuarakan, dan tetap memberi kontribusi untuk pendidikan,” jelasnya.

Sebagai awardee beasiswa, Ahsan juga berharap karya ini menjadi bentuk kecil dari kontribusi balik kepada negara. Ia ingin menunjukkan bahwa kesempatan pendidikan yang ia terima dapat melahirkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Cahaya di Pelosok Negeri menjadi pengingat bahwa harapan tidak selalu lahir dari tempat yang terang. Terkadang, cahaya justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana di pelosok negeri, dari anak-anak yang tetap bermimpi, dan dari mereka yang memilih untuk tidak berhenti peduli. (*) 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel diatas?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by ExactMetrics