TOPNEWS1.ONLINE, SIDRAP — Di tengah hamparan lahan pertanian Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, tersimpan kisah perjuangan seorang pemuda bernama Jhon.
Bagi sebagian orang, pekerjaan bertani mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Jhon, tanah, kayu, dan keringat adalah bagian dari perjalanan panjang untuk meraih masa depan.
Informasi yang diterima redaksi, Jumat, 11 September 2026 Sejak kecil, Jhon tumbuh dalam lingkungan pedesaan yang lekat dengan kehidupan para petani.
Ia terbiasa melihat masyarakat bekerja sejak pagi, mengolah lahan, menanam benih, merawat tanaman, hingga menunggu hasil panen dengan penuh kesabaran.
Dari lingkungan itulah semangat bekerja tumbuh dalam dirinya.
Kini, Jhon memilih menjadi petani. Hampir setiap hari ia turun ke ladang, berhadapan dengan teriknya matahari dan beratnya pekerjaan. Tanaman jagung menjadi salah satu bagian dari kesehariannya.
Tangannya bersentuhan langsung dengan tanah. Ia merawat tanaman yang ditanam dengan harapan kelak memberikan hasil untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Bagi Jhon, bertani bukan sekadar mencari penghasilan. Bertani telah menjadi bagian dari kehidupannya.
Namun, Jhon juga menyadari bahwa tidak setiap hari pekerjaan di ladang tersedia. Ketika musim tanam belum tiba atau aktivitas pertanian mulai berkurang, ia tidak memilih untuk berdiam diri.
Ia kemudian memanfaatkan keterampilannya sebagai tukang kayu.
Kayu yang bagi sebagian orang hanya menjadi bahan bangunan, di tangan Jhon berubah menjadi sumber penghasilan. Dengan keterampilan dan kemauan untuk terus belajar, ia mengerjakan pekerjaan pertukangan demi menyambung kebutuhan sehari-hari.
Jika ada petani lain yang membutuhkan tenaga, Jhon pun kembali turun ke kebun sebagai buruh tani.
Baginya, tidak ada pekerjaan halal yang memalukan.
Ia tidak mengenal gengsi ketika berbicara tentang pekerjaan. Selama pekerjaan itu dilakukan dengan jujur dan memberikan penghasilan yang halal, Jhon siap menjalaninya.
Dari tanah, ia belajar arti kesabaran. Dari kayu, ia belajar keterampilan. Dan dari keringat, ia belajar bahwa masa depan tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan.
Kisah Jhon menjadi gambaran bagaimana seorang pemuda desa memilih untuk terus bergerak di tengah keterbatasan. Ia tidak menunggu kesempatan datang, tetapi berusaha menciptakan peluang melalui kemampuan yang dimilikinya.
Hari ini, mungkin Jhon masih terlihat berjalan di antara tanaman jagung, mengolah kayu, atau membantu pekerjaan di ladang milik petani lainnya.
Namun, di balik aktivitas sederhana itu, ada sebuah mimpi yang sedang ia bangun.
Mimpi untuk memiliki kehidupan yang lebih baik melalui tangannya sendiri.
Perjalanan Jhon juga menjadi pesan bagi generasi muda bahwa pekerjaan tidak ditentukan oleh gengsi. Menjadi petani, buruh tani, maupun tukang kayu bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan.
Justru dari pekerjaan-pekerjaan itulah seseorang dapat belajar tentang tanggung jawab, ketekunan, kemandirian, dan arti sebenarnya dari sebuah perjuangan.
Jhon mungkin belum sampai pada tujuan yang ia impikan. Tetapi setiap hari ia telah mengambil satu langkah untuk mendekatinya.
Dari Desa Lainungan, ia menunjukkan bahwa masa depan dapat dibangun dari hal-hal sederhana: sebidang tanah, sepotong kayu, dan keringat yang jatuh karena kerja keras.
Dari tanah, kayu, dan keringat, Jhon sedang menulis kisah hidupnya sendiri memilih bekerja daripada menyerah, berjuang daripada mengeluh, dan membangun masa depan dengan tangannya sendiri. (Ibe)

















