Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
SIDRAP

Dari Pompanisasi hingga Pola Tanam, Cara Sidrap Jaga Produktivitas Pertanian

×

Dari Pompanisasi hingga Pola Tanam, Cara Sidrap Jaga Produktivitas Pertanian

Sebarkan artikel ini

TOPNEWS1.ONLINE, SIDRAP — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) memperkuat sektor pertanian melalui pengaturan pola tanam, inovasi pompanisasi, dan optimalisasi distribusi air irigasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas pertanian di tengah tantangan El Nino yang berkepanjangan.

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menegaskan hal tersebut saat menghadiri Rapat Rutin Penyuluh Pertanian yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Program Kementerian Pertanian, Pemantapan Pelaksanaan PM-AAS, dan Penguatan Kelembagaan Petani di Aula Saromase, Kantor Bupati Sidrap, Senin (19/10/2026).

Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

Bupati didampingi Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan Ibrahim beserta jajaran. Kegiatan ini diikuti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), ketua KTNA, serta pemangku kepentingan sektor pertanian lainnya.

Dalam arahannya, Syaharuddin menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, penyuluh, dan petani untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan. Menurutnya, pengalaman menghadapi kemarau panjang menjadi pelajaran penting dalam memperbaiki manajemen air dan meningkatkan etos kerja petani.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah mengoptimalkan distribusi air irigasi berdasarkan kondisi dan kebutuhan wilayah pertanian. Pemkab Sidrap bersama tim Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) memetakan sumber air dan menyesuaikan jadwal distribusi agar pasokan dapat menjangkau lahan yang membutuhkan.

Upaya tersebut diterapkan, antara lain, di wilayah Pitu Riawa. Air dari Bulu Cenrana dialirkan hingga sekitar 18 kilometer untuk membantu menyelamatkan pertanaman. Bupati menyebut, dari sekitar 7.800 hektare lahan pertanian di wilayah tersebut, lahan yang gagal akibat kekeringan hanya sekitar 170 hektare.

Langkah serupa dilakukan di wilayah Mojong, Empagae, Sidenreng, Walatedong, dan Arateng. Pemerintah mengupayakan aliran air dari Danau Sidenreng untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian.

“Ini saya sebut orkestrasi pemerintahan, kekuatan kita satukan,” ujar Syaharuddin, menggambarkan pentingnya kolaborasi dalam mengatasi persoalan air.

Inovasi juga datang dari petani di Bola Bulu yang memanfaatkan pompanisasi untuk mengalirkan air dari Sungai Bila–Bulu Cenrana. Dengan dukungan pompa berdaya 110.000 watt, pengairan dilakukan untuk lahan seluas 160 hektare.

Menurut Bupati, biaya operasional pompa mencapai Rp42 juta per bulan. Namun, teknologi tersebut menjadi salah satu contoh upaya petani dalam menjaga pertanaman melalui pemanfaatan sumber air dan teknologi pengairan.

Ke depan, Pemkab Sidrap juga akan mendorong penerapan pola tanam sesuai standar Kementerian Pertanian. Pola tersebut mencakup pengaturan musim tanam untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan sepanjang tahun.

“Ini harus selalu kita sampaikan ke masyarakat kita, karena pola ini disampaikan Kementerian Pertanian,” katanya.

Selain pola tanam dan pengelolaan air, pembenahan data luas sawah menjadi perhatian pemerintah daerah. Syaharuddin menyebut, pada 2027, pemerintah akan mengalokasikan tambahan anggaran operasional bagi setiap Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mendukung pendataan ulang luas sawah hingga tingkat dusun dan desa.

Pendataan tersebut diharapkan dapat memperjelas luas lahan pertanian yang ada, sekaligus menyelaraskan data pemerintah daerah dengan data statistik nasional. Dengan data yang lebih akurat, perencanaan program dan dukungan bagi petani diharapkan semakin tepat sasaran.

Syaharuddin menegaskan, upaya tersebut sejalan dengan misi mempertahankan Sidrap sebagai kawasan pangan nasional sekaligus meningkatkan posisi daerah dalam produksi beras nasional.

“Tujuan supaya tahun 2028 saya tidak mau lagi ranking 20, saya mau Sidrap masuk lima besar seluruh Indonesia, karena persoalan data,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan pembenahan pencatatan. Dengan demikian, hasil kerja petani dapat tercermin dalam data resmi dan menjadi dasar penguatan program pertanian ke depan. (ibe) 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel diatas?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by ExactMetrics