TOPNEWS1.ONLINE, SIDRAP — Hari Minggu biasanya menjadi waktu yang ditunggu banyak orang. Setelah enam hari beraktivitas, masyarakat memanfaatkannya untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar menghindari teriknya matahari.
Namun, Minggu sore, 9 Agustus 2026, Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap) Syaharuddin Alrif justru memilih berada di tengah hamparan sawah.
Sekitar pukul 15.00 WITA, rombongan Bupati Sidrap bergerak menuju wilayah ujung timur Kabupaten Sidrap. Bukan untuk menghadiri acara seremonial, bukan pula untuk menikmati suasana tempat wisata.
Tujuannya adalah memastikan kondisi pertanian warga di Desa Bulucenrana, Kecamatan Pitu Riawa, dan Desa Bola Bulu, Kecamatan Pitu Riase, tetap terjaga di tengah musim kemarau.
Perjalanan menuju lokasi tidak sepenuhnya mudah. Kendaraan hanya dapat menjangkau titik tertentu. Selebihnya, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan tanah dan pematang sawah.
Syaharuddin pun turun dari kendaraan dan berjalan menyusuri pematang.
Terik matahari masih terasa. Tanah mulai kehilangan kelembapan akibat kemarau, sementara angin yang berembus membawa hawa kering.
Di kanan dan kiri, hamparan tanaman padi terlihat membentang. Sebagian masih hijau, sementara sebagian lainnya sangat bergantung pada kelancaran pasokan air untuk dapat bertahan hingga panen.
Bagi petani, kemarau bukan sekadar pergantian musim. Musim kemarau berarti setiap tetes air menjadi sangat berharga.
Karena itu, kedatangan Syaharuddin bukan sekadar melihat kondisi sawah. Ia ingin memastikan distribusi air benar-benar sampai ke lahan pertanian masyarakat.
Ia mengecek saluran irigasi, melihat langsung aliran air yang masuk ke petakan sawah, sekaligus berbincang dengan petani mengenai kondisi tanaman dan kendala yang mereka hadapi.
Yang menarik, kunjungan tersebut sengaja dilakukan pada sore hari tanpa agenda penyambutan.
“Sengaja saya datang jam-jam segini, agar masyarakat tidak tahu. Saya tidak mau masyarakat petani repot karena saya ada,” ujar Syaharuddin.
Ia ingin melihat kondisi lapangan apa adanya. Tanpa seremoni, tanpa persiapan khusus, dan tanpa membuat petani harus meninggalkan aktivitasnya hanya untuk menyambut kepala daerah.
Bagi Syaharuddin, yang terpenting adalah mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
Bagaimana air mengalir, apakah saluran irigasi berfungsi dengan baik, bagaimana kondisi tanaman, serta langkah apa yang harus segera dilakukan agar petani tetap memiliki peluang panen di tengah tekanan musim kemarau.
Di wilayah Bulucenrana hingga Bola Bulu, persoalan yang paling menentukan saat ini bukan hanya benih maupun pupuk.
Air menjadi faktor utama.
Jika distribusi air berjalan lancar, tanaman padi memiliki peluang besar untuk bertahan hingga masa panen. Sebaliknya, gangguan pasokan air dapat meningkatkan risiko tanaman mengalami kekeringan dan merugikan petani.
Karena itu, pemantauan dilakukan langsung di lapangan.
Bukan hanya mengandalkan laporan di atas meja. Bukan sekadar melihat foto yang dikirim melalui telepon genggam.
Syaharuddin memilih melihat sendiri kondisi sawah, menyusuri pematang, dan berbicara langsung dengan petani.
Sore pun perlahan beranjak menuju senja. Terik matahari mulai mereda, tetapi langkah Bupati Sidrap bersama rombongan masih menyusuri kawasan pertanian.
Ada pesan sederhana dari kunjungan tersebut.
Bagi sebagian orang, Minggu adalah hari untuk beristirahat. Namun bagi Syaharuddin Alrif, hari libur tidak selalu berarti berhenti bekerja.
Ketika petani sedang menunggu air agar tanaman mereka bisa bertahan hingga panen, ia memilih datang ke sawah.
Ketika banyak orang memilih berteduh dari panas kemarau, ia justru berjalan di atas pematang untuk memastikan kondisi pertanian masyarakat.
Sebab bagi daerah yang sebagian besar denyut ekonominya ditopang sektor pertanian seperti Sidrap, memastikan air tetap mengalir bukan hanya soal menjaga tanaman padi.
Di balik setiap petak sawah, ada keluarga yang menggantungkan hidup.
Dan ketika sawah tetap hijau hingga panen, ada dapur ribuan keluarga yang tetap menyala.
Minggu sore itu, Syaharuddin memilih memastikan harapan itu tetap terjaga. (Ibe)
















