Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
SIDRAP

Proyek Saluran Tersier Ciro-Ciroe Sidrap Disorot, Gundukan Abu Batu Picu Tanda Tanya

×

Proyek Saluran Tersier Ciro-Ciroe Sidrap Disorot, Gundukan Abu Batu Picu Tanda Tanya

Sebarkan artikel ini
filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; algolist: 0; multi-frame: 1; brp_mask:0; brp_del_th:0.0000,0.0000; brp_del_sen:0.0000,0.0000; motionR: 0; delta:null; bokeh:0; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (0.42984122, 0.7494643);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 81.46019;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 39;

TOPNEWS1.ONLINE, SIDRAP – Tumpukan material bangunan di sejumlah titik kawasan persawahan Desa Ciro-Ciroe, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, menjadi sorotan.

Minimnya informasi mengenai kegiatan tersebut memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat.

Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

Dari pantauan awak media, Senin (2/11/2026), terlihat sedikitnya dua titik lokasi yang diduga menjadi tempat pelaksanaan pembangunan saluran air tersier.

Di lokasi itu tampak tumpukan material berupa bebatuan dan abu batu dalam jumlah cukup banyak.

Namun, tidak terlihat papan informasi proyek yang memuat identitas kegiatan, volume pekerjaan, nilai anggaran, maupun pihak pelaksana.

Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah keberadaan gundukan material menyerupai abu atau debu batu yang diduga akan digunakan sebagai bahan campuran konstruksi.

Penggunaan material tersebut pun memunculkan pertanyaan terkait jenis dan kesesuaiannya dengan spesifikasi teknis pekerjaan.

Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kepala UPT PSDA Desa Ciro-Ciroe, Muhammad Aly, yang akrab disapa Pak Aly, mengaku belum mengetahui adanya kegiatan tersebut.

“Tabe, saya kurang tahu Pak kalau di Ciro-Ciroe pekerjaan apa itu, karena tidak ada laporan,” ungkapnya.

Ia menduga kegiatan tersebut kemungkinan berkaitan dengan sektor pertanian dan menyarankan awak media mengonfirmasi langsung kepada pemerintah desa.

“Kalau saya lihat modelnya mungkin dari pertanian. Tabe, coba kita konfirmasi sama Pak Desa Ciro-Ciroe,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ciro-Ciroe, Riswan Cewang, saat dimintai keterangan memberikan jawaban singkat.

“Kelompok P3A itu, Pak Iccank,” ujarnya.

Meski demikian, keterangan tersebut belum menjawab sejumlah pertanyaan mendasar, mulai dari siapa pelaksana teknis kegiatan, sumber dan nilai anggaran, spesifikasi material, hingga instansi yang bertanggung jawab.

Publik kini mempertanyakan apakah pekerjaan tersebut merupakan program kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), kegiatan Balai PSDA, atau program lain di sektor pertanian.

Jika kegiatan itu menggunakan anggaran pemerintah, keterbukaan informasi menjadi hal penting. Masyarakat perlu mengetahui identitas pekerjaan, sumber pembiayaan, volume kegiatan, serta pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaannya.

Keberadaan papan informasi kegiatan juga penting agar masyarakat dapat ikut melakukan pengawasan terhadap penggunaan anggaran dan pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Jangan sampai minimnya informasi justru menimbulkan persepsi adanya proyek siluman, meskipun status dan legalitas kegiatan tersebut belum dapat dipastikan.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya meminta klarifikasi dari pihak kelompok P3A maupun instansi terkait untuk memastikan sumber anggaran, legalitas kegiatan, spesifikasi material, serta tujuan penumpukan material di kawasan persawahan Desa Ciro-Ciroe. (Ibe)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel diatas?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by ExactMetrics