TOPNEWS1.ONLINE, SIDRAP — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, dan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, memperkuat kolaborasi pembangunan melalui pertukaran dan replikasi inovasi daerah.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua pemerintah daerah di Aula Saromase SKPD, Kompleks Perkantoran Bupati Sidrap, Kelurahan Batu Lappa, Kecamatan Watang Pulu, Selasa (8/9/2026).
Penandatanganan kerja sama itu dirangkaikan dengan Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Opsen Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan, kerja sama tersebut menjadi ruang bagi kedua daerah untuk saling belajar, bertukar pengalaman, sekaligus mengambil praktik baik yang telah terbukti memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Hulu Sungai Utara memiliki 116 inovasi daerah, sementara Sidrap memiliki 126 inovasi yang dihimpun dari desa, kelurahan, dan perangkat daerah. Lewat inovasi ini kita sama-sama berbagi ilmu,” kata Syaharuddin.
Menurutnya, inovasi yang telah berhasil diterapkan di suatu daerah tidak semestinya berhenti hanya menjadi program lokal. Inovasi yang terbukti efektif dapat direplikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik daerah lain.
“Apa yang baik di Hulu Sungai Utara kita ambil, apa yang perlu dicontoh kita pelajari. Kita tidak boleh cepat puas dengan apa yang kita miliki,” ujarnya.
Dalam MoU tersebut, ruang lingkup kerja sama meliputi bidang pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan publik. Termasuk di dalamnya pertukaran serta replikasi inovasi daerah pada sektor pertanian, pengelolaan pajak daerah, hingga digitalisasi layanan publik.
Kerja sama juga menyasar sektor pertanian yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi kedua daerah. Syaharuddin menyebut Sidrap dan Hulu Sungai Utara memiliki karakter sebagai daerah pertanian, meski kondisi geografisnya berbeda.
“Karakter daerah kita mirip, sama-sama pertanian. Bedanya, di sana lebih banyak rawa,” katanya.
Di Sidrap, pertanian menjadi salah satu penggerak utama perekonomian masyarakat. Pemerintah daerah terus berupaya menjaga produktivitas sektor tersebut di tengah tantangan musim kemarau dan fenomena El Nino.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui program listrik masuk sawah untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Syaharuddin menyebut dari sekitar 51.000 hektare lahan yang ditanami, sekitar 4.500 hektare terdampak kemarau. Sementara sekitar 46.000 hektare lainnya masih mampu menghasilkan panen.
“Kita terus bekerja maksimal karena sumber pendapatan utama di sini sektor tanaman pangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan pertanian di Sidrap tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga diarahkan menjadi sektor ekonomi yang inklusif dengan melibatkan masyarakat dan memperkuat sektor peternakan, perkebunan, perikanan, hingga industri pengolahan.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari pengalaman yang dibagikan kepada Hulu Sungai Utara melalui kerja sama antardaerah.
Syaharuddin bahkan mencontohkan potensi Desa Padangloang Alau yang memiliki sekitar 591 hektare lahan persawahan. Dalam satu kali panen, nilai produksinya disebut mencapai sekitar Rp67 miliar.
“Ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang ada di desa. Kita ingin sektor pertanian tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Hulu Sungai Utara Hero Setiawan menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemerintah Kabupaten Sidrap. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi kesempatan penting untuk melihat secara langsung berbagai potensi dan inovasi yang telah dikembangkan di Sidrap.
“Kami datang ke sini disambut seperti saudara,” kata Hero.
Ia menyebut Hulu Sungai Utara juga memiliki potensi besar di sektor pertanian dengan karakter wilayah yang memiliki kemiripan dengan Sidrap. Hanya saja, sebagian besar lahan pertanian di daerahnya berupa lahan rawa.
Perbedaan karakter geografis tersebut justru dinilai menjadi peluang untuk saling bertukar pengalaman dan pengetahuan. Inovasi yang telah dikembangkan di masing-masing daerah dapat menjadi referensi untuk memperkuat pembangunan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mendorong kesejahteraan masyarakat.
Kerja sama antara Sidrap dan Hulu Sungai Utara diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan MoU, tetapi berlanjut dalam bentuk pertukaran pengetahuan, penerapan inovasi, dan kolaborasi konkret di berbagai sektor.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Sidrap Andi Rahmat Saleh, Kepala Bapenda Sulsel, jajaran Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara, sejumlah kepala OPD terkait, serta tamu undangan lainnya. (Ibe)
















