TOPNEWS1.ONLINE, NEW YORK — Namanya Muhammad Yusuf, lahir di Sinjai, Sulawesi Selatan, mengaku sudah enam bulan dan merasa betah di kota New York, bertugas sebagai lmam di Masjid Al-Hikmah, Indonesian Muslim Community, New York City.
Yusuf, awalnya ke Amerika karena lolos sebagai salah satu dari 7 peserta Global Leadership Program for Ustadz (GLPU), Program Tahunan Pesantren Nur Inka Madani, yang digagas oleh Imam Shamsi Ali dkk.
Yusuf merasa bahagia tinggal di Amerika karena mudah beradaptasi sebagai Ustadz, Imam Masjid, Protokol Acara (Master of Ceremony), dan memiliki bekal Bahasa Inggris dan sudah mengunjungi beberapa kota di Amerika, terutama di wilayah Timur seperti Massachusetts, Washington DC, selain New York, untuk melihat dari dekat gedung-gedung yang memiliki sejarah seperti Gedung PBB, White House, Capitol, Patung Liberty, dan beberapa kampus ternama.
Beberapa kegiatan sehari-hari Yusuf sekarang, misalnya menjadi Imam, khatib Jumat, mengisi kajian Al-Qur’an, dan menulis kaligrafi di Masjid Al-Hikmah dan Mesjid RS Bellevue New York. Yusuf mengaku telah mengambil kursus Bahasa Inggris di Queen Adult Learning Center (QALC).
Yusuf merasakan terkadang susah mendapatkan masjid untuk shalat, terutama ketika travel keluar dari kota New York, ia pun mensiasati dengan mencari tempat yang bersih untuk melaksanakan shalat lima waktu. “Solusi saya adalah mencari tempat yang bersih, tenang, dan gelar sajadah untuk shalat seperti di dekat taman, gedung, atau kantor. Shalat adalah kewajiban setiap Muslim, tidak boleh ditinggalkan, dan terkadang saya menggabungkan (menjamak) shalat saya,” kata Yusuf.
Tentang Puasa, shalat Idul Fitri dan Idul Adha, Yusuf merasakan tidak masalah jika waktu durasinya agak lama, berbeda dengan jumlah jam berpuasa di Indonesia.
“Itu adalah tantangan tersendiri, dan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Pemerintah Amerika telah menetapkan hari libur nasional, misalnya di New York.
Adapun tentang budaya dan agama orang-orang Amerika, Yusuf melihat dari dua arah, ada yang positif dan negatif. “Yang positif misalnya, saya lihat orang-orang saling menghargai, rajin menjaga kebersihan, tekun belajar, tepat waktu, dll. Tapi negatifnya, misalnya mereka kurang bersosialisasi dengan tetangga, individualis, dan anak-anak mudanya kelihatan terlalu bebas dalam bergaul, dan terkadang mereka membawa minuman keras, dll,” pungkasnya.
Yusuf berharap segera dapat melewati masa transisi, cepat beradaptasi dengan penduduk Amerika, yakni bisa lancar berbahasa dan menulis dalam bahasa Inggris. Semoga. (*)
Penulis: M. Saleh Mude
















